Pada 20 Oktober 2009 lalu, lahir seorang anak perempuan bernama Elifa Aisya. Dia adalah keponakanku, anak pertama dari abang kandungku. Dan kini, dia yang biasa dipanggil Aca itu, telah mengalami lima kali pengulangan tahun.

Dua hari yang lalu Aca meneleponku. Dia ucapkan selamat ulang tahun padaku. Kubalas dengan ucapan terima kasih. Kemudian kuucapkan juga selamat ulang tahun padanya. Ucap-ucapan ini merupakan hal baru dalam keluarga kami. Dan aku yakin penyebabnya adalah adik perempuanku, yang dalam beberapa tahun terakhir ini jadi begitu melankolis.

Kepada Aca, tak lupa kuberitahu bahwa hari ulang tahunnya bertepatan dengan pelantikan Joko Widodo (Jokowi) sebagai Presiden Republik Indonesia yang baru. Dia marah. “Bukan! Aca nanti ulang tahunnya, di sekolah,” bantahnya dengan nada kesal. Ah, aku lupa. Mana mungkin aku dapat mengajak anak sekecil itu untuk ikut merasakan kebahagiaan dan tingginya harapan kepada “wajah baru” demi kemajuan bangsa Indonesia ke depan ini! Atau mungkin dia pikir aku mengira perayaan ulang tahunnya akan dilangsungkan bersamaan tempat dengan pelantikan Jokowi? Entahlah.

Tiba-tiba aku jadi teringat kejadian beberapa bulan sebelumnya. Saat itu kubilang padanya bahwa tak lama lagi dia akan berulangtahun. Dengan muka serius dia berkata bahwa ulang tahunnya sudah lewat, tahun lalu. Kontan, hal itu mengingatkanku pada salah satu adegan dalam film animasi musikal Tangled. Di mana Sang Putri berambut panjang diberitahu ibu tirinya bahwa dia akan berulangtahun. Sang Putri menjawab itu telah terjadi setahun sebelumnya. Ibu tirinya kemudian membalas dengan mengatakan itulah hebatnya hari ulang tahun yang selalu berulang setiap tahunnya. Ya, dialog tersebut tampak lebih “lucu” saat dibaca dalam terjemahan Bahasa Indonesianya.

Aca dan Film Animasi Musikal “Frozen”

Aca, yang belum bisa baca-tulis, paling suka nonton film animasi musikal Frozen. Dia menyebutnya “film yang kakaknya besar kakaknya kecil”. Gara-garanya waktu mengajaknya nonton film ini untuk kedua kalinya, karena yang pertama tidak tuntas, aku bilang ayo nonton film yang ada anak kecil, kakak-adik, yang tumbuh jadi besar.

Aca paling suka dengan tokoh utamanya, yang dia tandai dengan “yang rambutnya putih semua”. Untuk itu, sebagai kado ulang tahun, dia minta dibelikan gaun dan mahkota seperti yang dikenakan Princess Elsa. Aku sendiri sering menggodanya dengan bilang bahwa dia lebih cocok jadi Anna: lebih periang dan tak bisa diam. “Oh, yang rambutnya putih satu ya? Dak mau! Aca mau jadi Elsa,” katanya.

Kalau sudah nonton film tersebut Aca bisa lupa segalanya. Sampai-sampai mungkin dia akan melupakan jika ada nyamuk yang sedang menghisap darah di kakinya. Parahnya, dia nonton film itu berkali-kali, berulang-ulang.

Aku jadi penasaran apa yang membuatnya seolah tak bosan-bosan nonton film itu. Padahal dia tidak mengerti dialognya yang berbahasa Inggris, dan juga belum bisa baca teks terjemahannya.

Sampai pada salah satu adegan, aku kaget, tiba-tiba Aca bertanya, “kenapa dia dak mau berteman?” Padahal, kedua tokoh yang ada dalam adegan itu tidak berbicara apa-apa, dan otomatis tidak ada teks terjemahannya.

Berkat kejadian itu aku beranikan diri menyimpulkan. Aca tidak bosan nonton film itu karena tidak “mengerti” (dalam pengertian orang dewasa). Tapi karena suka pada karakter tokoh utamanya, dia kemudian tertantang untuk “mengerti”. Dalam rangka agar “mengerti” dia tidak memperhatikan simbol yang paling canggih: bahasa (verbal). Dia memperhatikan detil lewat ekspresi, bahasa tubuh, musik, warna, dsb. Juga dengan sedikit bantuan lewat pertanyaan yang diajukan pada siapa yang menemaninya nonton untuk ihwal yang belum bisa dia nalar. Sehingga, karena banyaknya detil, dia selalu menemukan hal baru setiap kali nonton.

*

Di usia yang kelima ini merupakan fase penting dalam kehidupan Aca. Bagaimana tidak, selain selalu jadi pusat perhatian, di fase ini Aca mulai mengikuti berbagai kompetisi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Hasilnya pun lumayan sukses. Di Lomba Busana Daerah dia berhasil juara pertama. Juara kedua mewarnai. Juara tiga Lomba Busana Daerah Sekota Singkawang. Dan yang paling fenomenal, juara pertama Lomba Celoteh Anak Tingkat Kota/Kabupaten. Hasil itu memberikannya kesempatan mewakili Kota Singkawang untuk Lomba Celoteh Anak Tingkat Provinsi, di mana dia berhasil menyabet juara ketiga.

Semakin bertambah umur aku yakin Aca mampu mengembangkan potensinya. Apalagi dia termasuk anak yang mudah menangkap dalam belajar. Ingatannya tajam. Rasa ingin tahunya juga kuat.

Hanya saja, yang patut diperhatikan, Aca tak suka bila diperintah dan dimarahi dengan kasar. Dalam pelajaran formal dia kadang tampak seolah acuh tak acuh, namun saat dites dia mampu mengulanginya dengan baik. Ia juga peniru yang ulung.

Pernah suatu kali aku mencontohkan padanya teknik latihan penyeimbangan otak kanan dan otak kiri yang kukreasi sendiri. Di tangan kanan, kuletakkan jempol pada kelingking. Sementara di tangan kiri, jempol berada pada telunjuk. Lalu secara bersamaan kugerakkan kedua jempol itu berlawan arah, satu ke atas dan yang lain ke bawah, menyusuri setiap jari yang tersisa dengan berurutan. Aca memperhatikan sebentar. Kemudian berlalu dengan berkata, “Dak bisa.” Beberapa hari kemudian, mungkin sekitar seminggu, tiba-tiba dia melakukan apa yang sudah kucontohkan itu. “Ni, bisakan Aca?” katanya sombong.

Selamat ulang tahun, Aca! Tambah pintar, panjang umur, dan berkah.

Dikejar ombak Pantai Pasir Panjang, Singkawang, 22 Agustus 2012.
         Dikejar ombak Pantai Pasir Panjang, Singkawang, 22 Agustus 2012.
Advertisements