Sepintas, iklan ini tampak biasa saja. Bahkan bisa dibilang menjemukan. Di mana seorang laki-laki sedang kedinginan di tengah sejuknya alam pegunungan. Mungkin belum terbiasa naik gunung atau sedang kurang enak badan. Sehingga, jaket tebal yang dikenakannya tak mampu menahan udara dingin.

Tak lama berselang hadir seorang perempuan menawarkan “nyari jahe“. Laki-laki itu terkejut. Mungkin dia pikir akan sangat sulit “nyari jahe” di tengah banyaknya tanaman lain. Ya, ibarat mencari jarum di tumpukan jerami.

Dan seperti biasanya sebuah iklan televisi, di bagian akhir, sang perempuan menjelaskan bahwa yang dimaksud “nyari jahe” adalah menikmati minuman instan yang menjadi sponsor iklan ini. Minuman itu sendiri menawarkan jahe sebagai salah satu komposisi produknya. Dan jahe merupakan bahan minuman herbal yang dipercaya dapat menghangatkan tubuh peminumnya.

Kalau diperhatikan, iklan itu jadi menarik jika ditilik dari segi permainan bahasanya. Kuncinya pada kata “nyari“. Entah ini kelemahan atau justeru kelebihan Bahasa Indonesia, dalam ungkapan percakapan sehari-hari kata “nyari” memang dapat mempunyai dua arti.

Pertama adalah yang berakar kata “cari”, dan inilah kiranya yang ditangkap sang laki-laki. Yang kedua adalah yang berakar kata “sari”. Yang terakhir inilah yang dimaksud sang perempuan, dan merupakan nama depan dari produk minuman instan yang mensponsori iklan tersebut.

Sebagai perbandingan mari kita lihat kata “curi” dan “sepi”. Kedua kata ini, jika diucapkan sebagai kata kerja dalam percakapan sehari-hari, akan berbunyi “nyuri” dan “nyepi“.

Advertisements