Sebelumnya, perlu saya tegaskan di sini, bahwa apa yang akan saya ceritakan di bawah merupakan penceritaan ulang dari salah satu bagian yang ada dalam novel “Max Havelaar” karya Multatuli atau yang bernama asli Eduard Douwes Dekker.

Jadi karena ini hasil penceritaan ulang, isinya mungkin mengalami sedikit penambahan atau pun pengurangan, dan mungkin juga utuh sama sekali. Saya sendiri membaca cerita yang akan diceritakan ulang ini, yang judul aslinya adalah “Pemecah-Batu Jepang“, dari novel tersebut di atas yang dikeluarkan Penerbit Qanita (2014), yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Inggrid Dwijani Nimpoeno dari edisi berbahasa Inggris. Novel asli ditulis dalam Bahasa Belanda.

Alkisah, hiduplah seorang laki-laki yang berprofesi sebagai pemecah batu. Setiap hari dia bekerja keras menaklukkan batu-batu yang keras. Namun walau sudah bekerja keras, upah yang didapat tetap saja kecil. Dia tidak puas, dan mulai mengeluh, “Oh! Seandainya aku jadi orang kaya sehingga bisa bersantai-santai di balai-balai berkelambu.”

Ternyata keluhannya itu didengar malaikat di surga. Yang segera turun memenuhi keinginannya, “Terjadilah seperti yang kau katakan.”

Laki-laki itu kini jadi orang kaya. Dia dapat bersantai-santai di balai-balai indah berhiaskan kelambu yang terbuat dari kain lembut sutera merah.

Namun tak lama, lewatlah seorang raja yang dinaungi payung berlapis emas. Pengawalnya banyak. Setiap orang mengelu-elukannya. Bahkan, laki-laki yang tadinya pemecah batu itu terpaksa menyingkir sedikit untuk memberi jalan kepada yang raja.

Laki-laki itu mulai tidak puas lagi dengan keadaanya. Dia iri pada sang raja yang lebih berkuasa. Dia ingin juga dipayungi dengan payung indah berlapis emas. “Aku ingin jadi raja,” teriaknya.

Lagi, malaikat dari surga turun dan mengabulkan permintaannya, “Terjadilah seperti yang kau katakan.”

Laki-laki itu kini jadi seorang raja. Pengawalnya banyak. Di depan dan belakang. Sebuah payung berlapis emas nan indah kini menaungi kepalanya.

Lama-kelamaan, walau sudah dilindungi payung indah berlapis emas, teriknya sinar matahari masih juga mengganggunya. Dia merasa matahari itu terlalu hebat. Sinarnya membakar segalanya. Membuat rumput-rumput jadi kecoklatan. Wajahnya sendiri ikut terbakar. Dia pun ingin menjadi matahari.

Malaikat kembali mengabulkan permintaannya, “Terjadilah seperti yang kau katakan.”

Kini laki-laki itu jadi matahari. Dia menyidari segalanya. Dia pancarkan sinarnya yang paling cerah. Rumput-rumput jadi semakin kecoklatan. Tapi tiba-tiba, awan datang menghalangi sinarnya sampai ke bumi. Dia merasa kuasanya dihambat oleh awan itu. Dan menganggap awan itu lebih berkuasa dari dirinya. Maka dia ingin menjadi awan.

Malaikat dari surga tetap saja mengabulkan keinginannya, “Terjadilah seperti yang kau katakan.”

Laki-laki itu pun berubah jadi awan. Dia bentuk awan sekelam-kelamnya, yang mencegah sinar matahari sampai ke bumi. Kemudian tubuhnya berubah jadi titik-titik air hujan, yang turun dengan lebatnya menggenangi tanah dan sungai-sungai. Dia tahu akan segera mencapai lautan, mneguap, dan kembali menjadi awan. Tapi batu-batu besar di sungai menghalangi laju jalannya. Dia tak bisa bergerak cepat. Sekeras mungkin dia hantam batu itu, tetap saja bergeming. Sekali lagi dia marah ada yang lebih berkuasa dari dirinya. Dia mengeluh lagi. Dan ingin jadi batu yang keras.

Malaikat dari surga masih mengabulkan keinginannya, “Terjadilah seperti yang kau katakan.”

Laki-laki itu jadi batu yang besar dan keras. Belum juga puas dengan keadaannya, datanglah seorang laki-laki dengan palu di tangan dan mulai memecah tubuhnya perlahan-lahan. Dia pun mengeluh lagi. Ternyata pemecah batu lebih berkuasa, pikirnya. Dia kembali ingin jadi pemecah batu.

Sekali lagi malaikat dari surga mengabulkan keinginannya, “Terjadilah seperti yang kau katakan.”

Laki-laki itu kembali jadi pemecah batu. Dia puas. Kini dia selalu bekerja keras, walau dengan gaji kecil.

Advertisements