Alkisah, hiduplah dua sejoli Pak Saloy dan Mak Saloy. Keduanya hidup rukun dalam rumah tangga penuh cinta. Walau dengan demikian berarti Mak Saloy harus menanggung sabar yang luar biasa, mengingat penyakit tolol dan malas Pak Saloy yang kelewatan.

Saat itu cuaca cerah. Pak Saloy sedang asik bermalas-malasan di atas balai-balai, sambil menikmati ulinan angin sepoi-sepoi.

Demi melihat itu, Mak Saloy memberi saran. “Dari pada leha-leha, lebih baik melakukan sesuatu di luar sana. Mumpung cuaca cerah,” selorohnya.

“Di luar sana terlalu panas. Apa yang bisa kulakukan?” balas Pak Saloy acuh-tak-acuh.

Mak Saloy mulai menggerutu. Ia minta suaminya pergi memancing saja. Pak Saloy merasa enggan. Tapi Mak Saloy memaksa. Biar ada lauk buat makan, kilahnya. Pak Saloy pun beranjak, walau rasa enggan belum sepenuhnya hilang.

Alangkah beruntungnya Pak Saloy, cuaca cerah bikin ikan nafsu makan. Tangkapannya banyak. Ia masukkan semua dalam ember. Dengan hati senang, ia pun melangkah pulang.

Sesampainya di rumah, ia berikan ember itu kepada Mak Saloy. Mata Mak Saloy terbelalak melihat isi ember air semua. “Mana ikannya?” tanya Mak Saloy kemudian.

Pak Saloy jadi heran. Ia lihat ember itu. Benar saja, isinya cuma air. “Tadi ikannya banyak, dan kutaruh di situ semua. Ke mana mereka sembunyi?”

Mak Saloy mulai paham. Itu semua pasti akibat kecerobohan lakinya. “Ikan-ikan itu pasti lompat. Karena mereka melihat cahaya. Makanya pakai ini,” Mak Saloy mengucapkannya sambil menyentuh pelipisnya dengan telunjuk tangan kanan. Kemudian melanjukkan, “Besok-besok, biar tidak lompat, makanya ditutup!”

Pak Saloy berangkat lagi ke danau, sambil mengingat-ingat pesan istrinya.

Ternyata keberuntungan masih menaungi Pak Saloy. Ikan yang terpancing tak kalah banyak dari sebelumnya. Ia pun bersiap-siap pulang. Ia ingat-ingat lagi pesan istrinya. Ia bayangkan istrinya saat menunjuk-nunjuk pelipisnya. Sebelum melangkah pulang, dengan gaya laki-laki paling setia di dunia karena patuh sama istri, ia tutup matanya dengan kain yang telah disiapkan dari semula.

Perlahan tapi pasti, dengan langkah terbata-bata sambil mengingat-ingat jalan, Pak Saloy melangkah pulang. Di tengah perjalanan, ia mendengar bunyi seperti sesuatu yang jatuh dari tanah. Ia berhenti sejenak. Suara itu menghilang. Dan bunyi tersebut terdengar kembali saat ia melangkah lagi. Ia berhenti lagi. Berpikir. Dalam benaknya, ia menerka suara itu pasti karena ada yang usil melemparnya. Ia kemudian berlari ketakutan. Walau terhuyung-huyung, akhirnya sampai juga ia di rumah.

Di rumah, Mak Saloy kembali terbelalak. “Mana ikannya? Sudah kau tutup tadi?”

Pak Saloy mengiyakan. Ia tunjukkan kain tadi yang dipakai menutup matanya. Di depan istrinya, ia praktekkan¬†bagaimana ia menutup matanya. “Kau bilang tutup yang ini,” Pak saloy menirukan istrinya saat menunjuk pelipisnya, “Betul kan?”

Mak Saloy geregetan. “Aduuuh…! Maksudku bukan itu yang ditutup, tapi embernya.”

“Sudah, sini, aku saja yang pergi mancing. Kau jaga rumah saja,” tandas Mak Saloy sedikit kesal, dan berlalu meninggalkan Pak Saloy yang tampak masih kebingungan.

Advertisements