Dalam satu pekan ada delapan hari? Ya, itu kalau kita mengartikan nama-nama hari yang ada di Indonesia secara harfiah.

Kita ingat nama lain dari hari Minggu adalah weekend (akhir pekan). Dengan demikian, satu hari setelahnya adalah awal pekan. Jadi hari petama dalam setiap pekannya adalah hari Senin.

Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu, masing-masing kita sadur dari bahasa Arab untuk Isnain, Sulasa, Arbi’ah, Khamis, Jumu’ah, dan Sabt. Nama-nama hari dalam bahasa Arab tersebut, kecuali Jumu’ah, sangat dekat hubungannya dengan nama bilangan dalam bahasa Arab yang berarti dua, tiga, empat, lima, dan tujuh.

Jika dalam satu pekan ada tujuh hari, dan awal pekan dimulai dari hari Senin, maka kita memulai hitungan hari bukan dari nomor satu, melainkan dua, dan hari terakhir, Minggu, dengan demikian jadi nomor delapan.

Belum lagi jika kita mengartikan Minggu secara harfiah juga. Mungkin artinya bisa saja mengocok lambung. Minggu kita serap dari bahasa Portugis, Dominggo. Do artinya Tuhan dan Minggo artinya hari. Jadi Dominggo adalah hari untuk Tuhan. Hal ini berkaitan erat dengan kaum penyembah matahari, yang menyediakan hari terakhir dalam setiap pekan untuk menyisihkan pekerjaan dan mempersembahkannya khusus untuk beribadah kepada Tuhan. Oleh karena itu hari Minggu disebut juga Sunday (hari matahari). Kembali ke hari Minggu kita, mengingat makna harfiah dari bahasa aslinya, maka hari Minggu juga berarti hari hari. Hal ini akan tampak lebih ruwet ketika satu pekan yang isinya tujuh hari, juga disebut satu minggu.

Demikianlah jika kita mengartikan nama-nama hari itu secara harfiah. Untungnya kita tidak begitu. Kita hanya tahu hari Senin sebagai hari Senin, hari pertama dalam sepekan, dan seterusnya.

Apa yang tersebut di atas merupakan dampak dari saking terbukanya Bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu. Dan hal itu sangat sulit dicegah, mengingat intensitas ketersinggungan kita dengan budaya-budaya lain seperti, India; Tiongkok; Barat; sampai Timur Tengah. Oleh karena itu wajar kiranya jika Alif Danya Munsyi (Remy Sylado) bilang, sembilan dari sepuluh Bahasa Indonesia adalah asing.

Kembali pada pemaknaan secara harfiah, terkadang kita tidak konsisten. Apa yang kita terapkan pada satu hal, tidak diterapkan pada hal lainnya. Entah itu karena memang kedua hal atau lebih itu memang tidak bisa diperlakukan sama, atau kita yang gagal menemukan kesamaannya.

Dalam esai seninya yang berjudul “Dalam Sebotol Coklat Cair”, Radhar Panca Dahana pernah menyinggung bagaimana kita telah melakukan kesalahan dalam mencerna kata infotainment. Menurutnya, kata gabungan dari information (info/kabar/berita) dan entertainment (hiburan) itu, di tempat asalnya merupakan sebuah istilah untuk menyebut berita yang disajikan secara menghibur. Namun kita justru mengartikannya sebagai berita dari dunia hiburan.

Advertisements