tiger_sundarban-02_arinOleh Candida Beveridge
BBC World Service

(Tulisan berikut ini adalah terjemahan dari sebuah artikel yang saya dapat dari laman www.bbc.com, yang bertanggal 12 November 2014. Judul aslinya “Face to Face with a Man-eating Tiger”, sebuah reportase dari Candida Beveridge. Cara penerjemahannya sendiri, saya lakukan dengan bantuan mesin penerjemah Google. Kemudian saya perbaiki kalimat-kalimatnya dengan modal bahasa  Inggris seadanya dan sokongan kamus Inggris-Indonesia karya John M. Echols dan Hassan Shadily. Saya tidak tahu apakah ini bisa disebut kreatif atau malah curang. Yang jelas saya senang karena prosesnya lumayan menguras otak dan waktu tentunya. Alangkah bahagianya saya jika isinya dapat menghasilkan manfaat bagi Anda yang membacanya. Semoga!)

Lima ratus harimau Bengal hidup di hutan bakau terbesar di dunia, yang terletak di perbatasan India dan Bangladesh. Tapi sangat merugikan lebih dari satu juta manusia. Setiap tahun harimau-harimau itu menyerang hingga 60 orang, dan hanya setengahnya yang sanggup bertahan untuk menceritakan kisah tersebut.

Tidak ada yang mampu menyerang hati dan pikiran orang-orang Sundarbans –delta sungai besar di pantai utara Teluk Bengal– yang lebih menakutkan dari kata “harimau”. Bahkan penyebutan kata itu saja mampu menggiring penduduk desa ke kepanikan hebat.

Berhasrat melihat harimau walau sekilas, saya bertanya pada seorang pemancing apakah dalam perjalanannya pagi tadi ia melihat salah satunya. Sebelumnya ia tampak senang menghabiskan waktu bersama saya –tapi ia segera mengemasi kepiting-kepiting tangkapannya dan pergi tanpa sepatah kata pun.

“Jika Anda bicara tentang harimau, dia akan datang,” sahut tukang perahu yang mengantarkan saya. “Itulah alasannya.”

Di sini, sangat sulit menemukan orang yang hidupnya tak tersentuh oleh harimau, dalam berbagai cara.

Sebagaian daerah lebih rentan terhadap serangan dibanding yang lain. Antara tahun 2006 dan 2008 sejumlah orang tewas di Joymoni, sebuah desa kecil di tepi sungai Pasyhur, yang berbatasan dengan hutan. Dalam salah satu serangan, harimau menerobos dinding bambu sebuah gubuk di tengah malam, dan menerkam seorang perempuan berusia 83 tahun. Anaknya, Krisnopodo Mondol, yang saat itu berusia akhir 60-an, mendengar jeritannya.

“Saya buka pintu dan berlari ke tempat tidur ibu. Tapi ibu saya tidak ada,” katanya. “Yang saya lihat hanya tempat tidur yang kosong. Saya tidak menemukannya di mana pun. Saya buka pintu menuju beranda dan di bawah sinar bulan saya lihat ibu. Ia tergeletak di tanah dan luka parah, bajunya berserakan di mana-mana.”

Air mata menitik di wajah Krisnopodo. Sejenak kesedihan menaunginya, ia tak sanggup berkata-kata. Ia ambil foto ibunya dari dinding dan menatapnya seakan tak percaya. Kemudian ia melanjutkan.

“Harimau itu menyerang ibu di sisi kiri kepalanya. Tengkoraknya retak. Ia masih bernafas tapi tidak merasakan apa pun.” Tak lama kemudian, ia meninggal.

“Di tempat tidur, saya selalu terkenang ibu,” kata Krisnopodo. “Ketika ingat kejadian itu, saya tak sanggup menahan air mata. Saya masih bisa mendengar jeritannya.”

Tak lama setelah serangan itu, Krisnopodo dan istrinya pindah ke rumah beton jauh dari Joymoni, di mana ia sekarang hidup dengan mengeringkan kelapa di kebunnya, membatasi diri dari dunia luar.

Kebanyakan masyarakat di Sundarbans sangat bergantung pada hutan dan sungai untuk mendapatkan makanan dan uang dengan jalan mengumpulkan madu liar dan memancing. Meskipun ilegal, banyak di antaranya masuk ke kawasan lindung –Sundarbans adalah situs Warisan Dunia Unesco—untuk memotong kayu bakar dan berburu, dan justru itu yang menggiring mereka ke dalam konflik langsung dengan harimau. Musim panas ini dua orang tewas dalam insiden terpisah saat memancing kepiting.

Pada 1997, Jamal Mohumad pergi berburu dan mencari ikan ke hutan untuk makan –dan menemukan dirinya dalam persaingan dengan pemburu yang lebih besar dan lebih ganas.

“Harimau itu menyergap saya dengan cakarnya. Dia tusukkan cakarnya ke kaki saya dan menyeret saya ke air. Saya berjuang keras dan menyelam sekitar 10 kaki di bawah air. Harimau itu melepaskan saya. Secepat mungkin saya berenang jauh di bawah air. Setelah beberapa saat, ketika sampai ke permukaan, saya tak melihat harimau itu lagi. Saya berenang menyusuri sungai dan melihat perahu dan teriak minta tolong.”

Jamal adalah legenda lokal di Sundarbans. Semua tahu ia satu-satunya orang yang berhasil selamat dari tiga serangan harimau yang terpisah.

Yang terbaru, pada 2007, ia pergi ke hutan mencari kayu bakar, ketika, di rerumputan tinggi di sisi sungai, ia melihat seekor harimau sedang berbaring di bawah sinar matahari.

“Harimau itu berada di sisi utara sungai dan saya di sisi selatan. Saya tidak bisa lari. Saya tahu jika harimau itu melihat saya dia akan menyerang maka dari itu saya berdoa.”

Harimau itu melirik Jamal. Kaku, Jamal berdiri terpaku ke tanah. Ia tahu bahwa jika ia berbalik untuk lari ia akan diterkam.

“Karena sebelumnya telah diserang dua kali saya jadi lebih sadar apa yang harus dilakukan. Jadi saya berdiri di depan harimau itu serta membuat wajah seram dan bersuara keras.”

“Anda tahu, harimau juga takut kepada manusia. Keduanya bisa saling menyerang dan itu berbahaya bagi kedua belah pihak.”

Harimau itu mendekat ke arah di mana Jamal berdiri dan mengeluarkan raungan keras. Jamal meraung balik.

“Saya meraung dan meraung kepada harimau itu dan membuat wajah seseram mungkin yang saya bisa. Itu berlangsung selama sekitar setengah jam sampai tenggorokan saya perih.”

Istri Jamal mendengar suara itu dan menyusul bersama warga desa.

“Mereka membuat begitu banyak kebisingan, mereka membuat harimau itu takut. Ketika saya melihat teman-teman saya dari desa, saya roboh.”

Tidak seperti banyak penduduk desa yang telah diserang, Jamal masih pergi ke hutan –tapi ia lebih berhati-hati sekarang.

“Saya selalu melihat harimau dalam mimpi saya dan ketika saya pergi ke hutan ada ketakutan dalam diri saya bahwa harimau itu mengawasi saya dan mungkin menyerang lagi. Tapi saya harus pergi ke hutan demi memastikan tersedianya makanan untuk anak-anak saya. Hanya untuk mereka bahwa saya harus menghadapi harimau lagi dan lagi.”

Harimau di Sundarbans tampaknya lebih agresif daripada di bagian dunia lainnya. Hal ini tak sepenuhnya dapat dimengerti kenapa demikian –beberapa memperkirakan mungkin karena kadar garam airnya yang tinggi.

Namun penyebab yang paling mungkin adalah menipisnya habitat alami mereka dan kekurangan mangsa. Dengan jutaan orang yang hidup di pinggiran hutan bakau, kelangkaan pangan merupakan masalah yang sama bagi manusia dan harimau, dengan masing-masing memburu mangsa lainnya.

Di salah satu desa yang diteliti oleh ahli konservasi, ditemukan dalam setahun harimau membunuh sekitar 80 hewan ternak –anjing, kambing, kerbau, dan sapi. Akibatnya, warga desa melakukan beberapa serangan balasan terhadap harimau. Untuk menghentikan itu, pada 2008 kelompok konservasi lokal menurunkan 49 tim penanganan Tiger Village.

Setiap tim relawan bertanggungjawab menangani harimau yang nyasar ke desa-desa. Untuk tidak membunuh hewan itu, warga desa menakut-nakutinya agar kembali ke hutan dengan mengacungkan obor dan menyalakan petasan. Jika itu gagal mereka memiliki nomor panggilan untuk menghubungi tim penakluk yang mempunyai obat penenang untuk membius harimau sehingga dapat dibawa kembali ke hutan.

Meski begitu, serangan balasan masih terjadi. Pada Desember 2013, sekelompok penduduk desa yang tinggal dekat hutan Ghagra Mari menangkap seekor harimau dan membunuhnya setelah harimau itu menyerang dan membunuh seorang warga.

Bagi masyarakat setempat, gagasan bahwa harimau mungkin suatu hari akan punah sangat sulit untuk difahami. Seorang nelayan, Deban Mandal, menatap curiga ketika saya mengatakan maslah itu padanya. “Bagaimana mungkin hewan yang ganas seperti itu bisa berada pada risiko kepunahan?” dia bertanya.

Dapatkah saya untuk tidak mendengar suara hati (heart) harimau? Saya akui, saya tidak bisa. Ia mendongak dan tertawa. “Saya telah mendengar detak jantung (heart) harimau, dan itu lebih kuat dari punya saya.”

Saat itu Deban sedang dalam perjalanan dari Sundarbans ke daerah Kultoli Khal untuk menangkap ikan. Para nelayan menarik perahu mereka ke pantai sesaat sebelum fajar tiba.

Air sedang surut dan mereka mengambil jalan ke salah satu dari banyak anak sungai berlumpur yang mengarah ke hutan. Segalanya benar-benar hening. Yang terdengar hanya suara langkah kaki mereka di antara akar bakau.

Deban pergi ke tepi anak sungai dan mengucapkan doa. Matahari telah terbit dan kabut menguap dari air. Melangkah di lumpur yang lembut, ia bentangkan jalanya. Pada saat itu, entah dari mana, harimau terbang ke arahnya.

“Raungannya sangat keras seperti halilintar bagi saya,” katanya, menirukan suara hewan itu.

Saya benar-benar tak berdaya. Dengan beratnya badan harimau, saya pikir saya akan jatuh, jadi saya mencengkeram tubuhnya dan menempelkan kepala saya di dadanya. Saya bisa dengar debar jantung harimau itu begitu cepat. Saya tetap bergelantungan dengan telinga saya menempel ke dadanya. Saya bisa merasakan nafasnya di kepala saya, dia terus mencoba menyerang saya.”

Ia menatap saya, matanya membesar saat ia menceritakan peristiwa itu.

“Saya pikir jika saya bisa terus bertahan, dia tidak akan bisa menggigit saya. Tapi dia meronta-ronta dari satu sisi ke sisi lainnya dan akhirnya saya terjatuh dan dia menggigit saya di sini, di leher saya.  Saya yakin saya tidak akan hidup lagi.”

Salah satu nelayan memanjat pohon, tapi yang lain datang untuk menyelamatkan Deban.

“Salah seorang datang dengan kapak atau sesuatu yang panjang, mungkin sebilah kayu, dan memukul kepalanya. Ketika dipukul, harimau itu melepaskan saya dan melarikan diri.”

Ia menunjukkan bekas luka di lehernya kepada saya –saya bisa melihat bekas tusukan yang jelas.

“Ketika saya melihat seekor harimau sekarang, saya merasa sangat takut. Saat bos meminta kami untuk mengunjungi sisi lain sungai, saya katakan padanya jika harimau melihat saya, tentu dia akan menerkam saya. Ia bertanya: ‘Mengapa harimau itu menerkammu?’ Saya katakan padanya harimau itu diam-diam mengawasi saya dari hutan, saya tahu jika saya pergi, dia akan menemukan saya.”

Warga desa lain, Sukumar Mondol, menderita luka fisik yang jauh lebih serius. Wajahnya timpang sebelah, ia tidak bisa lagi melihat atau mendengar dengan jelas, dan berbicara dengan cadel.

“Saya sedang duduk di tepi sungai ketika saya mendengar raung harimau,” katanya. “Dalam sekejap, tahu-tahu dia sudah berada di atas saya. Dia menyerang saya berulang kali dengan cakarnya. Tangan saya terkilir.” Ia tunjukkan tangannya pada saya, yang memiliki garis putih panjang, di mana kulit penuh goresan memenuhi telapak tangannya.

“Harimau itu menggigit kepala saya. Saya merasa saya sedang sekarat. Saya pikir tidak ada cara saya bisa selamat dari serangan. Tidak ada yang bisa menyelamatkan saya.” Panjang harimau itu sembilan kaki tidak termasuk ekor, katanya.

“Kemudian seorang perempuan datang untuk menolong dan menyelamatkan hidup saya. Ia memukul harimau itu dengan tongkat dengan kekuatan penuh,” katanya. Mereka menutupi luka Sukumar dengan handuk dan membawanya dengan perahu ke Chalna, 10 km, dari mana ia melakukan perjalanan lain sejauh 50 km ke rumah sakit di Khulna.

Sukumar beruntung masih hidup. Ia menghabiskan beberapa minggu di rumah sakit dan tidak bisa bekerja lagi.

“Dari 27 Juli 2011, saya belum kembali ke hutan. Harimau itu sangat buas. Dia makan orang untuk makan siang. Kami tinggal di wilayahnya. Itu adalah wilayahnya. Dengan pertolongan Tuhan saya selamat dari serangan. Berkat restuNya saya masih hidup.”

Advertisements