Senin pagi. Joni masih tidur dalam nyenyak. Tapi kakinya bergoyang-goyang. Lalu menjalar ke badan ikut bergoyang. Di bibirnya tersungging sebuah senyum misterius. Dan tiba-tiba terdengar suara dari mulutnya. “Oh, guruku yang cantik!”

Joni terkejut. Lantas bangun. Sejenak ia ragu, apakah kata-kata tadi benar-benar diucapkannya. Perlahan rasa takut menggerayanginya. Ia takut kata-kata itu benar-benar keluar dari mulutnya, dan ada yang mendengar.

Bergegas Joni pergi ke kamar mandi. Ia bersihkan diri. Ganti baju putih-biru. Sarapan sedikit. Ambil uang jajan dari ibunya. Dan berangkat ke sekolah.

Pelajaran pertama Matematika. Joni suka Matematika, tapi tidak gurunya: Pak Muhsin. Alhasil, tiga kali 40 menit jam pelajaran terasa sangat membosankan. Rasanya seperti seharian penuh saja. Ia ingin bel segera berbunyi. Joni tak sabar menanti pelajaran selanjutnya. Pelajaran favoritnya: Bahasa Inggris.

Kiranya tak terlalu tepat jika dikatakan pelajaran favorit. Karena Joni sebenarnya tak begitu suka Bahasa Inggris. Nilainya pun tak bagus-bagus amat. Tapi ia suka gurunya. Ia suka Bu Gemala Nada yang cantik. Yang senyumnya merekah bagai bunga di taman nan indah. Yang tinggi semampai. Yang jika berjalan pinggulnya melenggak-lenggok seakan tulangnya terbuat dari rotan. Yang tatap matanya tajam menembus jantung siapa pun yang menatapnya dan siap menusuk-nusuknya, namun sejuk bagai embun di pagi hari yang terlambat turun ke tanah.

Lambat laun saat yang dinanti tiba. Joni merasa lega. Kini ia bisa menatap wajah gurunya yang cantik itu, bidadarinya. Sepintas ia teringat bagaimana guru pindahan itu pertama kali mengenalkan diri. “Bedanya, kalau bule hidungnya mancung ke depan, saya mancung ke dalam,” ujar Bu Gemala waktu itu.

Astaga, Joni lupa bawa buku tulis khusus latihan. Padahal dua hari yang lalu Bu Gemala sudah memperingatkan. Ia ingin bilang, tapi takut. Ia urungkan niatnya. Sementara Bu Gemala mulai menuliskan soal-soal latihan di papan tulis.

Setelah selesai menulis soal, Bu Gemala mempersilakan murid-muridnya untuk mengerjakan. Tak lupa ia ingatkan agar tak ada yang mencontek, dari buku atau pun teman. Beberapa saat kemudian Bu Gemala mengecek pekerjaan murid-muridnya. Ia kelilingi seisi kelas. Satu per satu meja murid ia datangi.

Saat Bu Gemala menuju ke arah mejanya, mendadak jantung Joni berdegub kencang. Deg-degan. Desir darahnya seakan mengalir tak tentu arah. Namun ia coba bersikap santai.

Dan tepat ketika Bu Gemala hendak melintasi mejanya, dengan hati-hati ia julurkan sikunya ke sisi luar meja. Siku itu pun membentur pinggul Bu Gemala. Joni sedikit menyesal. Ia takut Bu Gemala tahu ia sengaja melakukannya. Ia takut Bu Gemala marah. Tapi Bu Gemala diam saja. Dan melintas begitu saja tanpa suara. Joni berbalik senang. Hatinya berbunga-bunga. Seolah bunga apa saja ada di sana.

Bu Gemala mengumumkan pekerjaan yang sudah selesai boleh dikumpulkan. Joni ragu. Pekerjaannya sudah selesai. Tapi ia mengerjakannya bukan di buku tulis khusus latihan, melainkan di selembar kertas. Ia menunggu sejenak. Mengumpulkan keberanian. Lalu nekad maju ke depan mengumpulkan pekerjaannya. Bu Gemala bertanya kenapa tidak pakai buku latihan. “Lupa, Bu,” jawab Joni sopan. Aneh, Bu Gemala malah tersenyum. “Lupa toleng-toleng,” balasnya dengan bahasa Melayu yang dipaksakan, dan tampak betul ia baru belajar menggunakannya. Sebenarnya yang betul adalah “tolen”, yang artinya terus/selalu.

Ternyata Joni tak sendirian –yang lupa membawa buku khusus latihan. Ada satu lagi temannya yang mengumpulkan kerjaannya juga pada selembar kertas. Mungkin temannya itu berani mengumpulkan setelah melihat Joni. Tapi sial, temannya itu justru kena bentak. Ia dimarahi habis-habisan. Dalam hati Joni tertawa bangga. Dalam pandangannya kini Bu Gemala tampak semakin cantik.

Setelah semua kerjaan terkumpul, Bu Gemala melakukan pemeriksaan dan penilaian. Kemudian hasilnya diumumkan saat itu juga.

“Yang paling tinggi, dengan nilai 8,7 adalah….” Bu Gemala mengambil jeda. Murid-murid menunggu harap-harap cemas nama siapa yang akan disebut. Joni sadar tak mungkin namanya yang akan disebut. “Winda!” lanjut Bu Gemala. Yang disebut namanya tampak senang. Murid-murid bertepuk tangan memberi selamat.

“Yang paling tinggi kedua, dengan nilai 6,2 adalah….” kembali Bu Gemala mengambil jeda.

“Joni ya, Bu?” entah kenapa tiba-tiba Joni nyeletuk. Ia spontan saja melakukannya. Teman-temannya membuat koor, “Hu….”

“Ya, betul, Joni!” ujar Bu Gemala.

Joni terhenyak, tapi juga girang. Ia tak menyangka celetukannya mujarab. Walau nilainya terpaut jauh dari yang tertinggi pertama, ia tetap senang. Namun ia mulai curiga, jangan-jangan itu hanya karena kebaikan hati Bu Gemala sama seperti sebelumnya saat ia mengumpulkan lembar kerjaannya. Ia curiga jangan-jangan Bu Gemala juga menyukainya. Tiba-tiba Joni takut melanjutkan pikirannya. Ia yakinkan diri tak mungkin Bu Gemala suka pada seorang anak kelas tiga SMP.

Namun demikian, tetap saja ia merasa senang. Hari itu, ia pulang dengan langkah yang mengayun riang. Sambil dalam hati terus bergumam, “Oh, guruku yang cantik!”

Advertisements