Kelompok Gurindam 12 dari MTsN 9 Jakarta tampil apik di acara Kenduri Cinta dan mengoncang bumi Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat, 14 November 2014.
Kelompok Gurindam 12 dari MTsN 9 Jakarta tampil apik di acara Kenduri Cinta dan mengoncang bumi Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat, 14 November 2014.

Jumat malam, 14 November 2014, Kenduri Cinta yang merupakan bagian dari Maiyah Nusantara besutan Emha Ainun Najib, melakukan rutinitasnya. Menggelar pengajian sebagai wahana pencerahan bagi bangsa yang kali ini diberi judul “Negeri Setengah Hati”.

Pukul 20 lewat 10 menit waktu Indonesia Barat (WIB) acara dimulai. Pada latar tersaji gambar, di mana tampak seorang pengusaha berjas lengkap dan bertopeng sedang menghadapi seorang pengemis perempuan di padang tandus yang luas.

Hadirin membahas gambar itu. Dipandu seorang pemuda bernama Irvan. Siapa saja boleh memberi komentarnya. Irvan mempersilakan, tapi tak ada satu pun yang berani angkat tangan. Terpaksa Irvan menunjuk untuk meminta pendapat. Satu per satu hadirin mulai angkat bicara. Seorang pemuda memandang itu sebagai dagelan, semacam olok-olok, dari seseorang yang dianggap lebih tinggi derajatnya –dilihat dari segi materi tentunya– kepada mereka yang dianggap rendah. Seorang lain yang tampak lebih tua dari yang pertama berpendapat lain. Ia khawatir jangan-jangan pengemis itu sebenarnya menyembunyikan harta yang berlimpah dan pura-pura miskin, sebaliknya yang dihadapinya hanyalah seorang miskin yang berlagak kaya. Demikianlah komentar-komentar lain bermunculan, berhadapan, bahkan bersinggungan.

Diskusi sejenak dihentikan untuk memberi kesempatan kepada kelompok Gurindam 12 dari Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 9 Jakarta menampilkan karyanya. Sekitar 150 anak sekolah menengah itu tampil ke depan. Kelompok yang memadukan paduan suara, rebana, gamelan, serta teater itu mulai menyihir hadirin yang menyaksikan.

Salah satu pengisi suara tampak begitu menikmati perannya.
Salah satu pengisi suara tampak begitu menikmati perannya.

Berbagai nyanyian mereka bawakan. Nasyid, kasidah, bahkan lagu-lagu populer, seperti Tobat Maksiat dari Wali Band dan lagu Iwak Peyek, tersaji di sana. Suara bulat nan merdu penyanyi utamanya betul-betul menyihir penonton.

“Zaman telah akhir
buminya goyang
akalnya jungkir
negaranya goncang
betulkan hati kepada raja
jadilah raja yang bijaksana,” demikian penggalan salah satu lirik yang dibawakan.

Di bagian akhir, kelompok itu menampilkan teater yang menggambarkan kelak di akhirat saat manusia dibangkitkan kembali. Muncul manusia-manusia berwujud gerandong dan bencong. Membuat pengakuan kesalahan yang telah diperbuat selama hidup di dunia. Ada pula tujuh bidadari sebagai balasan perbuatan baik.

Demikianlah Gurindam 12 membuat bumi Taman Ismail Marzuki bergoyang lewat nomor yang diberi judul “Neraka”. Tepuk tangan membahana mengiringi akhir penampilan. Ada haru di sana.

Nama Gurindam 12 diambil dari karya besar Raja Ali Haji. Mulai dirintis sejak tahun 1989. Pesan-pesan yang disampaikan tak jauh dari karya agung dari penyair yang namanya juga agung itu. (imf)

Hadirin yang berjubel pun dibuat terpukau.
Hadirin yang berjubel pun dibuat terpukau.
Advertisements