Berikut adalah lima singkatan atau akronim warisan Orde Baru (Orba, 1966-1998) yang sampai saat ini masih sering digunakan.

  1. Tilang

Tilang adalah kependekan dari tindak langsung. Istilah ini sering digunakan dalam instansi kepolisian, terutama dalam pelanggaran yang bisa ditindak secara langsung seperti pelanggaran lalu-lintas. Saking sering digunakan, singkatan yang satu ini bahkan biasa digunakan sebagai kata dasar. Sehingga dapat diberi imbuhan: ditilang; menilang.

  1. Bandara

Bandara merupakan singkatan dari bandar udara, yakni pelabuhan udara. Suatu kali saya pernah diprotes oleh seorang teman saat menulis “bandar udara” di status ‘blackberry’. Menurut teman saya itu, seharusnya saya menulis “bandara”. Ya, ini salah satu bukti bahwa singkatan atau akronim yang terlalu sering digunakan membuat kita lupa bahwa itu memang singkatan/akronim.

  1. DP atau Depe

DP sebenarnya merupakan akronim dari istilah Inggris Down Payment. Tapi kemudian diindonesiakan menjadi Duit Panjar. Yaitu sebagian uang pembayaran yang diberikan di muka sebagai tanda jadi atau tanda booking (pemesanan).

  1. ABG atau Abege

ABG adalah akronim untuk Anak Baru Gede. Biasanya digunakan untuk menyebut remaja tanggung. Sampai sekarang akronim ini masih sering digunakan. Ditambah lagi, ABG juga sering masuk dalam judul atau lirik lagu populer. Sehingga penggunaannya semakin meluas.

  1. BT atau Bete

BT bisa banyak sekali kepanjangannya. Ada yang menyebut Bad Time. Ada juga yang menyebut Boring Today. Bahakan ada yang menyebut Bored Totally, atau bosan total. Yang jelas istilah ini sering digunakan sebagai ungkapan persaan yang sedang tidak mengenakkan atau rasa bosan.

Jika ditelusuri lebih jauh, sebenarnya masih banyak lagi singkatan atau akronim warisan Orba yang masih bertahan hingga sekarang.

Di bawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia Kedua, Soeharto, itu memang banyak sekali singkatan-singkatan atau akronim-akronim yang diciptakan.

Saking banyaknya, Parakitri T. Simbolon sempat menyinggungnya dalam sebuah tulisan satire yang dimuat di kolom Kompas, 14 Januari 1984, dengan judul “Ilmu Maturbasi Cucu Wisnusarman”.

Dalam tulisan itu, diceritakan Cucu Wisnusarman diundang untuk bicara di depan seminar para ahli. Berikut sebagian petikan pidatonya:

“Tuan-tuan dan nyonya, silakan masturbasi bersama di lapangan! Bila perlu jangan malu membuka baju. Orang lewat, jangan hiraukan, yang menonton, acuhkan. Tak usah ragu, inilah obat mujarab pembebasan. Berabad kebohongan bilang: seks tabu.”

Dan ternyata pidato ringkas yang membuat gaduh para ahli yang mendengarkan itu adalah akronim dari:

“TUjuAn-TUjuAN yang berpaDANan dengan peNyederhanaan Organisasi dan peNYederhanaan Administrasi Secara Ilmiah meLAndasi dan mengokohKAN MASyarakat yang teraTUR BAik dan seraSI BERikut SArana-sarana MAnajemen DI segala LAPANGAN. BIaya dan LAba yang diPERhitungkan dengan LUgas adalah perpanJANGAN pengaMAtan LUas yang MEMBUahkan Keterangan dan Angka pemBAngunan dan kemaJUan. ORdonansi dan undANG-undang LEmbaga dan jaWATan adalah perpanJANGAN HIRarki Administrasi dan Ukuran KekuasaAN, YANG secara NONTeknis Organisatoris puN jadi ACUan Hukum KekuasaAN. TAKaran USAHa (standard performances) dan caRA pengGUnaan (methods of application), INIsiatif dan pengoLAHan Organisasi jaBATan, adalah raMUan muJARAB PEMbagian BEBan penugaSAN. KeBERhasilan Administrasi pemBAngunan Daerah, misalnya, bisa dilihat dari tingkat KEBOhongan berupa HONorarium Gelap Aparat Negara, BIrokrasi yang Lamban dan meNGanggur: SEcara KeSeluruhan, TAtanan BUdaya, dan usaha…dan seterusnya…”

Demikianlah ulasan yang dipersingkat itu diberi julukan ilmu MASTURBASI alias Ilmu Masyarakat yang Teratur Baik dan Serasi.

Advertisements