Salah satu amal yang paling sulit dilakukan adalah sabar. Dalam kisah berikut, bahkan seorang nabi Allah pun tak sanggup menanggungnya.

Alkisah, Nabi Musa bertekad mencari seorang cerdik-pandai, yang difirmankan Allah kepadanya sebagai seorang hamba di antara hamba-hamba lainnya yang telah dikaruniai rahmat dan ilmu dari sisiNya, untuk dijadikan guru yang akan membimbingnya pada perluasan ilmu.

Beberapa mufasir berpendapat bahwa cerdik-pandai yang dimaksud adalah Nabi Khidir. Namun di sini kita sebut saja sebagai Sang Guru.

Untuk bertemu Sang Guru, Musa harus membawa seekor ikan dan mencari suatu tempat di mana dua laut bertemu. Jika telah sampai di pertemuan dua laut itu, dan ikan yang dibawa menghilang dengan sendirinya, maka di situlah Musa bisa bertemu Sang Guru.

Dengan diiringi seorang pembantu yang masih muda, berangkatlah Musa mencari Sang Guru. Tak lupa ia berpesan kepada pembantunya untuk memerhatikan ikan yang dibawa. Dan segera memberitahukannya jika ikan itu telah tiada di tempatnya.

Sebuah perjalanan jauh dimulai. Bulat sudah tekad Musa mencari Sang Guru sampai ketemu. “Aku tidak akan berhenti sebelum sampai ke pertemuan dua laut, atau aku akan terus berjalan walau sampai bertahun-tahun,” berkata Musa kepada pembantunya.

Setelah perjalanan yang melelahkan, sampailah keduanya pada sebuah pantai yang dihiasi bebatuan. Keduanya berniat mencari tempat istirahat di bebatuan itu. Namun  Musa merasa tak ada tempat yang layak untuk sekadar berteduh di bebatuan itu. Maka keduanya melewatinya.

Tak lama berselang, Musa menjadi semakin payah. Ia kelelahan. “Bawalah kemari makanan kita, sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini,” katanya kepada pembantunya.

Tiba-tiba si pembantu teringat sesuatu. “Tahukah Anda, ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka saya lupa menceritakan tentang ikan itu. Dan tidak ada yang membuat saya lupa untuk mengingatnya kecuali setan. Ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.”

“Itulah tempat yang kita cari!” seru Musa gembira. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.

Maka tak beberapa lama kemudian, bertemulah keduanya dengan Sang Guru. Musa lantas mempersilakan pembantunya untuk pulang. Kini tinggal Musa berdua dengan Sang Guru.

Kepada Sang Guru, dengan hormat Musa meminta izin agar diterima sebagai murid. “Bolehkah saya mengikuti Anda agar Anda mengajarkan kepada saya yang telah diajarkan kepada Anda sebagai petunjuk?” pinta Musa.

“Sungguh, engkau tak akan sanggup sabar bersamaku,” balas Sang Guru. “Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

Insya Allah akan Anda dapati saya sebagai orang yang sabar. Dan saya tidak akan menentang Anda dalam urusan apa pun,” kata Musa.

“Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu,” Sang Guru memberi syarat.

Musa pun mendapat restu mengiringi Sang Guru. Namun saat keduanya naik perahu, tiba-tiba Sang Guru melubangi perahu itu. Musa yang tak menemukan alasan pembenar sehingga perahu itu pantas dilubangi segera protes.

“Mengapa Anda melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, Anda telah berbuat suatu kesalahan yang besar,” kata Musa.

“Bukankah sudah kukatakan, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?” Sang Guru mengingatkan.

“Janganlah Anda menghukum saya karena kelupaan saya itu dan janganlah Anda membebani saya dengan sesuatu kesulitan dalam urusan saya,” Musa memelas, mengakui kesalahannya.

Keduanya kembali berjalan bersama. Ketika keduanya bertemu seorang remaja, Sang Guru lalu membunuh remaja itu. Melihat itu, Musa kembali tak kuasa menahan protesnya.

“Mengapa Anda membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, Anda telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”

“Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?” Sang Guru kembali mengingatkan.

Musa pun kembali menyadari kesalahannya. “Jika saya bertanya kepada Anda tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi Anda memperbolehkan saya menyertai Anda. Sesungguhnya Anda telah cukup bersabar menerima alasan dari saya,” Musa berjanji.

Keduanya melanjutkan perjalanan. Kini sampailah mereka pada sebuah negeri. Namun saat meminta jamuan dari penduduknya, tak ada seorang pun yang bersedia menjamu mereka. Keduanya terus berjalan. Masih di negeri itu, mereka melihat dinding rumah yang hampir roboh. Sang Guru memperbaikinya agar dapat berdiri tegak. Mengingat sikap tak ramah penduduk negeri itu, Musa pun tak sanggup menahan komentarnya.

“Jika Anda mau, niscaya Anda dapat meminta imbalan untuk itu,” komentar Musa.

“Inilah perpisahan antara aku dengan engkau. Aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tak mampu sabar terhadapnya.”

“Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut. Aku bermaksud merusaknya, karena di belakang mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu.”

“Dan adapun remaja itu, kedua orangtuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orangtuanya kepada kesesatan dan kekafiran. Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan yang lebih baik kesuciannya daripada anak itu dan lebih sayang kepada keduanya.”

“Sedang dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua. Dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu.”

“Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tak sabar terhadapnya,” pungkas Sang Guru.

Demikianlah Musa tak mampu lulus dari ujian sabar. Dan, seperti kata Sang Guru, sabar memang sulit bagi seseorang yang belum mempunyai pengetahuan yang cukup.

(Catatan: Rujukan mengacu pada Al-Qur’an dan Terjemahannya keluaran Departemen Agama Republik Indonesia, 2015, surah: Al-Kahf, ayat: 60-82.)

Advertisements