Taksi editRabu malam, 3 Desember 2014, saya bersama seorang teman berniat makan nasi goreng. Kami pun mendatangi sebuah warung nasi goreng di bilangan Pisangan, Ciputat, Tangerang Selatan. Dan memesan tiga porsi, satu porsi dibungkus.

Saat menunggu pesanan, saya minta tolong kepada teman saya itu untuk diambilkan suratkabar yang tergeletak dekat tempat ia duduk. Sebenarnya saya tak berniat sungguh-sungguh membaca isi berita yang ada di suratkabar itu. Paling-paling saya hanya akan membaca judul dan melihat gambar-gambarnya saja.

Namun tiba-tiba saya melihat sebuah judul berita di halaman muka dan tertarik membaca isinya. Kalau tidak salah judulnya “‘Taksi Hantu’ Incar Wanita”. Dan suratkabar yang saya maksud adalah harian Pos Kota.

Di bawah judul, terpampang sebuah ilustrasi gambar. Di mana tampak seorang sopir taksi dan seorang penumpang perempuan duduk disampingnya. Di bagian belakang taksi itu, dari bagasi, muncul seorang laki-laki bertopeng menodongkan sebilah pisau ke arah penumpang perempuan tersebut. Kemudian ditambah keterangan bahwa isi berita ada di halaman 11.

Saya pun menuju halaman yang dimaksud. Dan isinya adalah dua kejadian terpisah perampokan yang menimpa dua orang penumpang taksi dalam waktu kurang dari seminggu.

Kejadian pertama menimpa Rini, 30 tahun. Pada tanggal 28 November 2014, sekitar pukul 23.00 WIB, warga Kemayoran, Jakarta Pusat, ini bermaksud pulang kerumah selepas kerja dengan menumpang taksi. Kantor Rini berada di daerah Kuningan, Jakarta. Ia pun menghentikan sebuah taksi berwarna putih. Setelah naik ke dalam taksi, dan ketika taksi memasuki kawasan bisnis Mega Kuningan, tiba-tiba dari bagasi taksi muncul dua orang laki-laki yang segera menodongkan pisau ke arah Rini yang duduk di jok belakang itu. Harta Rini pun dikuras habis.

Kejadian berikutnya terjadi pada 1 Desember 2014. Kali ini menimpa Rita, 27 tahun, seorang warga Tanah Abang, Jakarta Pusat. Saat itu Rita juga baru pulang dari kantornya di kawasan bisnis Sudirman, Jakarta. Taksi yang ditumpangi Rita juga berwarna putih. Awalnya ia merasa cukup nyaman karena taksi yang dinaikinya termasuk nama dagang terkenal. Namun tak lama setelah berada di dalam taksi, tiba-tiba muncul seorang laki-laki dari bagasi mobil. Kaget, Rita sempat berteriak. Laki-laki itu pun mencekiknya agar diam. Ketika itu, sopir taksi menelpon seseorang untuk menunggu di pinggir jalan dan segera bergabung. Harta berharga milik Rita juga dibabat habis. Termasuk kartu ATM, setelah sebelumnya pelaku memaksa Rita menyebutkan nomor PIN.

Pihak kepolisian sendiri menduga dua kejadian tersebut dilakukan oleh kelompok yang sama. “Kami masih mendalami kasus ini. Semoga saja anggota di lapangan dapat segara menangkap pelaku,” ujar Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Heru Pranoto.

Ya, semoga saja kasus tersebut segera terpecahkan dan para pelakunya segera ditangkap. Dan para penumpang taksi dapat merasakan kenyamanan sebanding dengan harga yang mereka bayarkan.

Advertisements