“Hujan panas?” Ya. Tak mendung, matahari bersinar cerah, dan hujan. Seringkali berupa rintik atau rinai. Saat itulah aku jadi galau. Ada perang berkecamuk di batinku. Antara bahagia dan duka.

Entah, tiba-tiba saja pikiranku melayang ke masa kecil dulu. Mungkin saja masa itu tak terlalu indah. Namun aku senang mengingatnya. Karena mengenangnya diam-diam mampu menghadirkan bahagia.

Kami, anak-anak kampung, percaya hujan panas saatnya hantu jaring keluar sarang. Hantu itu akan berkeliaran membuat celaka siapa saja yang tak mengacuhkan hujan panas, terutama anak-anak. Apalagi jika hujan panas itu terjadi di hari Jumat, teror hantu jaring akan semakin hebat.

Di hujan panas, segala kegiatan yang berhubungan dengan manjat-memanjat harus segera dihentikan. Hal itu merupakan santapan empuk hantu jaring. Karena jika berjalan, hantu jaring hanya bisa melihat ke atas. Kepalanya selalu menengadah saat berkeliaran. Jika tidak, siapa pun yang berani memanjat pohon saat hujan panas, pasti akan celaka. Bisa saja mendadak kakinya terpeleset dan badannya terjatuh ke tanah.

Tidak, tidak, tidak! Untuk keperluan yang mendesak, kau bisa saja memanjat dengan selamat walau di saat hujan panas. Sini, kuberitahu rahasianya. Kami, anak-anak kampung, punya cara khusus agar tidak terlihat oleh hantu jaring. Untuk bisa menghilang dari pandangan hantu jaring ini, kami menyisipkan daun-daunan di sela bagian atas daun telinga. Biasanya rumput atau ilalang. Sebelumnya, daun itu –maksudku rumput atau ilalang itu– dibacakan mantra terlebih dahulu. Mantranya hanya satu kata. Ada yang menyebut ‘al-Qur’an’, ada ‘sajadah’, ‘masjid’, atau ‘kopiah’, dan sebagainya. Pokoknya semua benda yang berkenaan dengan ibadah atau hal-hal yang dianggap baik dan suci. Tapi dalam satu kelompok, mantranya tidak boleh ada yang sama.

Dengan jimat itu, kami bebas melenggang ke mana saja, atau berbuat apa saja, tanpa khawatir celaka. Dengan demikian adil sudah: kami tidak bisa melihat hantu jaring, hantu jaring pun tak bisa melihat kami.

Ceritanya akan berbeda jika hantu jaring itu terlihat. Ada wujudnya.

Di Bukit Batu, kampung sebelah tempat kami biasa mencari biji karet, ada seorang nenek aneh. Kerjanya mencari kayu bakar atau pucuk pakis untuk sayur. Wajahnya jelek. Mengerikan. Tubuhnya kecil. Rumah (atau lebih tepat dibilang gubuk)nya juga kecil. Sangat kecil, bahkan dibanding rumah orang termiskin di kampung kami sekali pun. Rasanya rumah itu tak layak dihuni manusia.

Wajah nenek itu tampak lebih menyeramkan saat hujan panas. Saat itulah kami yakin ia akan segera berubah menjelma hantu jaring. Kami lari lintang-pungkang. Semakin kuat dan jauh kami berlari, kami makin yakin nenek yang telah menjelma hantu jaring itu selalu mengikuti.

Anehnya, saat itu mata kami rasanya semakin tajam. Apalagi untuk melihat jambu monyet yang tampak merahnya begitu merona. Tapi kami takut. Keinginan mendalam segera memetik jambu monyet yang menantang harus dipendam. Mengingat wajah seram nenek itu, kami jadi tak percaya jimat apa pun akan mempan.

Keesokan harinya, saat kembali ketika panas tak lagi hujan, jambu monyet tak ada lagi di pohonnya. Kami pun mengutuk nenek itu. Kami datangi gubuknya. Kami hujani gubuk itu dengan olok-olokan. Segala olokan hadir di sana. “Hei, nenek jelek!” itu yang paling nyaring terdengar. Kami bangga bisa membalas dendam. Kami puas. Kesumat telah dibayar tunai.

Kau tahu? Hujan panas juga mengingatkanku pada Ibu. Ibuku menghembuskan nafas terakhir saat hujan panas. Masih terngiang di telingaku bagaimana Ibu memarahiku karena tahu ulah kami terhadap nenek itu. Aku tak sempat meminta maaf kepada nenek itu. Bahkan aku belum sempat minta maaf pada Ibu.

Sekarang, setiap hujan panas, aku selalu berharap Ibu dan nenek itu bisa hadir menemuiku. Walau sebagai hantu jaring. Aku ingin mengucapkan maaf.

Advertisements