Setiap perjalanan selalu memberi kita cerita yang berbeda. Perbedaan tempat dan waktu jelas mempengaruhi. Tak jarang sebuah perjalanan malah mengikatkan kita tentang rumah. Rumah tempat tinggal, rumah tempat kembali.

Rumah pulalah yang sering berkelindan di benak saya ketika berada dalam sebuah perjalanan dari Singkawang menuju Pontianak. Dan hal itu tak pernah terjadi dalam perjalanan dari dan ke arah sebaliknya.

Entah kenapa, perjalanan ke selatan itu selalu terasa sedikit membosankan. Untuk mengusir bosan itulah saya sering memikirkan rumah.

Perjalanan dari kotamadya menuju ibukota Kalimantan Barat, untuk kemudian terbang ke Jakarta, itu biasanya dimulai sejak pagi buta. Di sekitar hampir setengah perjalanan awal tak banyak yang bisa dilihat karena begitu gelap.

Selebihnya, sejak matahari mulai akan menampakkan wujudnya, mulai tampak deretan rumah-rumah di pinggiran jalan, yang letaknya jarang-jarang. Demi melihat bentuk rumah-rumah itu, alih-alih memikirkan rumah tempat saya sendiri dibesarkan, saya sering coba menebak suku apa kira-kira penghuni rumah yang saya lihat itu satu-per-satu.

Dari rumah-rumah itu, ada tiga tipe rumah yang paling gampang dikenali, yang dapat membimbing pada suku atau etnis apa penghuni rumah yang dimaksud.

Yang pertama adalah rumah dengan bentuk lurus memanjang ke belakang. Yang satu ini adalah rumah khas etnis Tionghoa atau Cina. Biasanya rumah jenis ini dikelilingi pagar hidup yang sedikit lebih tinggi dibanding pagar hidup rumah etnis lainnya jika memang ada pagarnya. Tak jarang pula rumah semacam ini hanya berdiri sendiri. Dengan kata lain tak ada tetangganya kecuali kebun kelapa atau bahkan semak-belukar.

Kedua, rumah dengan bentuk seperti huruf L. Dari bagian depan rumah akan tampak dua pintu: pintu depan dan pintu samping. Rumah jenis ini biasanya milik suku Melayu, yang berkembang kira-kira pada sekitar tahun 1980an dan 1990an. Di depan rumah biasanya ada tempayan tempat menampung air hujan. Rumah semacam ini sering berdiri bergerombol, dengan parit kecil sebagai tanda batas tanah antara rumah satu dan lainnya. Satu kesamaan yang sering terdapat pada rumah Melayu dan Cina adalah tipenya yang semi-panggung, alias mempunyai kolong rendah.

Untuk yang terakhir mungkin tak terdapat bentuk khas pada bangunannya, kecuali tak adanya kolong pada kebanyakannya. Namun yang paling mencolok sebagai pembeda dari rumah-rumah lainnya adalah halamannya yang lapang dan sering kali agak lebih luas. Pemiliknya adalah dari suku Madura. Rumah yang ketiga ini juga sering berdiri bergerombol. Tapi terkadang tak ada tanda jelas yang membatasi tanah untuk tiap-tiap. Sepintas, bisa dibilang rumah-rumah ini seakan berdiri di sepetak tanah datar yang lapang dan luas.

Demikianlah perjalanan ke selatan itu memberi saya kesan yang berbeda dari perjalanan ke utara yang biasanya dihiasi sinar kemerahan dari matahari yang sedang ditelan cakrawala.

Memikirkan rumah-rumah itu, sedikit dapat meredam rindu karena memikirkan rumah sendiri tempat saya dibesarkan. Dan mungkin jika dicermati lebih jauh akan dapat membantu kita mengenali karakter masing-masing, sehingga akhirnya bisa saling memahami.

Advertisements