Ahad, 21 Desember 2014, jadi salah satu hari paling bersejarah dalam hidup adik perempuanku. Hari ini ia mendapat pinangan. Walau mungkin buah pinangnya sendiri tidak ada, nama buah dan pohon dari keluarga palem-paleman ini memang masih digunakan sebagai simbol pengikat tali silaturahmi antara dua keluarga.

Sebagai abang, walau tak dapat hadir di sisinya, aku turut bahagia. Kuganti ketidakhadiranku dengan iringan doa. Semoga pertunangan ini dapat menjadi berkah di kemudian hari.

Di hari pertunangan tersebut banyak orang datang ke rumah. Termasuk di antaranya adalah abang sepupuku dan anak pertamanya: Memey.

Usia Memey sekitar enam tahun. Sekilas, anaknya tampak pendiam. Tidak mudah akrab dengan orang-orang baru. Memey termasuk anak perempuan yang bertipe sedikit bicara banyak bekerja. Rasanya tak ada pohon yang tak bisa ia panjat.

Di antara anak-anak kecil yang ada di lingkungan keluarga kami, hanya Aca yang mampu mengimbangi keaktifan Memey. Aca lebih muda satu tahun dari Memey. Ibarat mawar dan durinya, keduanya begitu cocok. Jika bertemu, keduanya seakan saling berbagi kelebihan masing-masing. Saling menguatkan.

Tak mau dibuat repot saat acara pinangan berlangsung, adik perempuanku mengurung keduanya di kamar. Dan ia harus merasakan akibatnya: kamar jadi berantakan seperti kapal pecah setelahnya.

Kecocokan Aca dan Memey dapat terlihat dari kejadian saat lebaran sekitar dua tahun yang lalu. Kala itu kami sekeluarga besar sedang berkunjung ke rumah mertua abang sepupuku. Di antara kami ada lima anak kecil. Dua anak perempuan dan tiga anak laki-laki.

Anak-anak itu sangat menggemari salah satu kue yang tesaji di atas meja. Kuenya sendiri, yang terbuat dari cokelat, mungkin tak seberapa enak. Tapi anak-anak justru suka pembungkusnya yang memiliki semacam stiker bulat berwarna merah. Mereka menempelkannya di mana pun mereka suka. Ada juga yang menempelkannya di kening layaknya orang India.

Di tangan Aca ada dua kue. Satu di tangan kanan dan satunya di tangan kiri. Namun salah satunya diambil paksa oleh salah satu anak laki-laki. Aca marah. Memey, yang melihat itu, langsung meninju muka anak laki-laki yang mengambil paksa kue Aca. Mereka kemudian melanjutkan permainan. Sementara anak laki-laki itu menangis sejadi-jadinya sembari menghampiri ayahnya.

Demikianlah kalau Aca dan Memey bertemu. Tak ada yang dapat menghentikan keduanya. Apalagi jika hanya anak laki-laki. Aca yang memiliki tubuh dan mulut yang sama aktifnya dan Memey yang di balik kecantikannya tersimpan ketangguhan, akan membuat kerepotan siapa saja yang tak sanggup memahami atau mengimbangi keduanya.

Advertisements