Awalnya tulisan ini hendak saya beri judul “Menyikapi Kasus Penyerangan Charlie Habdo“. Tapi karena terbatasnya informasi yang bisa saya dapat, sehingga saya tidak tahu apakah penyerangan yang menyebabkan 12 orang tewas itu benar-benar karena penghinaannya terhadap Nabi Muhammad, maka saya tidak mau gegabah mengambil kesimpulan dan tidak jadi menggunakan judul tersebut.

Hanya saja, yang jelas terlihat adalah adanya kemarahan umat Islam setiap kali pelecehan terhadap nabi penutup zaman itu dilakukan, dengan membuat gambar-gambar karikatur.

Bagi saya, menghadapi pembuat karikatur Nabi Muhammad, sama saja dengan menghadapi seseorang yang membuat gambar serampangan di tanah kemudian menginjak-injaknya sambil berkata, “Ini ibumu aku injak-injak!” Kedua-duanya jelas sama-sama membuat panas hati, namun membunuh tentu akan menjadi sikap yang berlebihan. Di sinilah kebijaksanaan kita diuji.

Tak ubahnya orang yang membuat gambar di tanah dan mengatakan itu ibu kita padahal sama sekali tidak mirip, pembuat karikatur Nabi Muhammad juga hanya menggambar berdasarkan pengetahuan umum bahwa nabi pembawa pesan penyempurna agama ini adalah orang Arab. Jadi yang digambar adalah sosok dengan gambaran umum orang Arab. Kita sendiri sama sekali tidak punya rujukan bagaimana sebenarnya penampakan wujud Nabi Muhammad, karena kita dilarang mengabadikan gambarnya. Maka kita tidak bisa mengatakan bahwa yang digambar oleh pembuat karikatur itu adalah Nabi Muhammad. Sama seperti gambar di tanah yang jelas sekali itu bukan ibu kita.

Pelaku pembuat gambar di tanah, biasanya dilakukan anak-anak kecil yang memancing perkelahian. Yakni dengan maksud membuat anak yang ibunya digambar di tanah dan diinjak-injak itu menjadi kesal dan marah, kemudian bisa jadi menyerang. Dengan demikian pelaku mempunyai alasan menyerang balik. Perkelahian pun terjadi. Dan anak yang marah itu jelas telah kalah satu langkah dalam pertarungan karena diliputi amarah.

Begitu pula pelaku pembuat karikatur yang dianggap sebagai Nabi Muhammad, tujuannya jelas ingin membuat para pengikutnya marah. Dan ketika kita para pengikutnya marah, kemudian menyerang membabi-buta, mereka punya alasan untuk menyerang balik. Perang pun terjadi. Apabila kita tidak terima dengan serangan balik itu dan menyerang kembali, mereka akan menyerang lagi. Perang tiada henti sampai akhir zaman. Dan dalam peperangan itu, kita telah kalah satu langkah karena diliputi amarah.

Rasulullah SAW sendiri telah mencontohkan kepada kita bagaimana seharusnya bersikap saat dihina orang, yakni ketika ia hanya tersenyum menghadapi orang yang melemparinya dengan kotoran. Kita bisa cukup tersenyum melihat karikatur yang dimaksud sambil berkata dalam hati, “Hinaan ini sama sekali tidak benar,” atau sekadar, “Ini bukan Nabi Muhammad.” Sehingga kita bisa menghindari diri dari amarah, apa yang memang diharapkan pelaku.

Di sisi lain, penghinaan yang memancing amarah publik semacam itu hanya pantas dilakukan di negara bar-bar atau jahiliyah. Negara-negara yang mendukung penghinaan itu sebagai kebebasan mengungkapkan pendapat, sepertinya bisa belajar dari India, salah satu negara dengan peradaban paling tua di dunia. Di mana polisi India segera melakukan penyelidikan terhadap seorang politisi yang ditengarai telah menghasut kebencian komunal. Haji Yakub Qureshi, seorang politisi Muslim India, terpaksa harus dmenjalani pemeriksaan polisi setelah mengeluarkan komentar “mereka yang menghina Nabi Muhammad pantas mati“. Pernyataan itu dianggap dapat memancing kemarahan publik.

Kebebasan berpendapat memang patut diperjuangkan. Namun apalah artinya sebuah pendapat jika pendapat itu jelas-jelas menyebabkan orang lain merasa terhina lalu marah, dan rela membunuh karenanya? Dan bukankah kebebasan berpendapat itu sejatinya untuk mencari kebenaran?

Advertisements