Jika Anda berbelanja pakaian di Singkawang, Kalimantan Barat, Anda akan menjumpai banyak toko yang menerapkan harga pas pada dagangannya.

Sistem harga pas ini mulai digemari di Singkawang karena banyak manfaatnya bagi para pembeli. Di antaranya harga-harga dari satu toko ke toko lainnya akan semakin bersaing. Toko yang ingin menarik pelanggan sebanyak-banyaknya tidak akan berani memasang harga selangit.

Selain itu, harga pas juga memudahkan bagi mereka yang tidak terlalu ulet dalam proses tawar-menawar harga. Yang mana hasil yang berbeda dari satu pembeli ke pembeli lainnya dari proses tawar-menawar ini terkadang dapat menimbulkan masalah.

Mengingat luas Kota Singkawang yang hanya sekitar 504 km persegi, kemungkinan satu pembeli dan pembeli lainnya untuk saling bertemu akan semakin besar. Bayangkan jika dua pembeli dari toko dan barang yang sama saling bertemu, dan menemukan harga yang berbeda dari barang yang dibeli karena yang satu pandai menawar sedang yang lainnya tidak, maka kemungkinan yang mendapat harga lebih tinggi akan merasa di”tipu”. Karena ia akan merasa diperlakukan secara tidak adil dibanding temannya untuk barang yang sama di toko yang sama.

Tonggak Awal

Jumlah penduduk Singkawang sekitar 250.000 jiwa. Dengan keturunan Tionghoa sebagai mayoritas. Sulitnya bangsa keturunan Tionghoa ini masuk jajaran pegawai pemerintahan pada masa Orde Baru, membuat mereka menguasai sektor swasta. Sampai saat ini, denyut perekonomian Kota Singkawang masih berada di tangan mereka.

Meningkatnya gelombang Islamisasi setelah Soeharto bersama Golongan Karya-nya mulai mendekatkan diri pada Islam, membuat kebutuhan akan pakaian muslim dan muslimah juga semakin melonjak. Singkawang ikut terkena imbasnya. Pedagang-pedagang Tionghoa tak dapat memenuhinya.

Melihat peluang itu, Suryati (58) memberanikan diri terjun ke bisnis pakaian jadi ini. Dengan modal seadanya yang dikumpulkan dari gajinya bersama suami sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan beberapa usaha kecil-kecilannya, sejak 2006 ia membuka Surti Collection, toko pakaian yang menyediakan berbagai kebutuhan busana muslim dan muslimah.

Walau pada awalnya sering mendapat cemooh, Suryati tetap bertahan menerapkan “harga pas” pada dagangannya. Ia juga hanya mengambil keuntungan sekitar 75% dari total modal dasar. Alhasil, tiga sampai empat tahun kemudian, selain mulai menjamurnya toko yang menyediakan kebutuhan busana muslim dan muslimah, harga pas ikut diterapkan pada toko-toko lainnya.

Memupuk Kejujuran lewat Harga Pas

Lazim diketahui, banyaknya kasus korupsi yang terjadi di Indonesia di antaranya adalah terkait gratifikasi yang melibatkan pejabat negara atau pemerintahan dan pelaku bisnis. Harga pas mungkin dapat menjadi salah satu penangkal. Karena dengan harga pas, kecuali memudahkan bagi pembeli, kejujuran pedagang juga akan lebih mudah diuji.

Pembeli akan mudah mengetahui mana pedagang yang semena-mena menerapkan harga pada dagangannya untuk meraup untung sebesar-besarnya. Dengan demikian harga akan semakin bersaing. Harga yang lebih tinggi untuk kualitas barang yang sama akan ditinggalkan. Dan jika pedagang ingin menaikkan harga, meraka juga terpaksa harus menambah kualitas atau memberikan nilai tambah pada dagangannya.

Untuk itu geliat harga pas di Singkawang kiranya perlu dipertahankan dan terus ditingkatkan. Sebagai sumbangan kota yang baru berdiri pada 2001 ini untuk Indonesia. Sebuah sumbangan tradisi kejujuran sebagai penangkal penyakit kronis korupsi yang membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Advertisements