Belakangan, entah mengapa, tiba-tiba pare begitu membangkitkan selera makanku. Dengan pare, makan rasanya lebih nikmat.

Waktu kecil, aku sering lihat Bapak suka sekali makan pare. Katanya enak. Bagiku tidak, karena pare itu pahit. Tapi sesekali aku juga makan, itu atas dasar iming-iming kesehatan, bukan lantaran enak.

Keluarga kami memang lebih sering melihat makanan beralaskan selera ketimbang faktor kesehatan. Sehingga sulit bagi kami untuk menerima pantangan jika itu terkait makanan.

Pekan lalu, dalam kesempatan berkunjung ke Cimahi, Jawa Barat, kepala Ibu mendadak pusing saat jalan-jalan ke Pasar Baru di Bandung. Aku segera berkeliling mencari jamu penolak angin untuk sedikit meredamnya, sementara Bapak menemani Ibu istirahat sambil minum es cendol. Setelah istirahat sejenak, minum jamu, dan sedikit belanja oleh-oleh, kami teruskan perjalanan menuju Masjid Agung Kota Bandung. Ibu senang lihat rumput buatan di alun-alun. “Seperti permadani,” katanya. Namun rasa pusing masih saja bersarang di kepala Ibu. Hujan lebat turun. Kami terjebak di Masjid Agung. Bapak melihat ada tukang periksa tensi darah keliling dan segera memanggilnya. Tekanan darah Ibu pun diperiksa.

Hasilnya mengejutkan. Tekanan darah Ibu naik drastis. Pada alat tertera angka yang jauh lebih tinggi dari biasanya. Ibu memang sering terserang tekanan darah tinggi. Tukang periksa darah keliling itu memperingatkan Ibu untuk menjaga makanan, dan terutama menghindari makanan yang berbau gorengan. Ah, Ibu ingat, malam sebelumnya ia makan ikan kembung asin, yang dalam bahasa Sunda disebut ‘peda’. Malam itu makan kami memang terasa nikmat. Tuan rumah yang adalah abang kandung Bapak, menjamu kami dengan ‘peda’ dan sambal terasi. Sungguh pasangan yang serasi.

Ibu insaf atas kesalahannya. Tapi percayalah, itu hanya sementara. Nanti kami akan segera melupakannya. Dan kembali melakukan kesalahan yang sama.

Begitulah, sekarang aku suka makan pare bukan atas iming-iming kesehatannya, melainkan khasiatnya yang mampu mendongkrak selera. Mungkin ini pengaruh kopi kurang gula, sehingga lidahku mulai dapat menerima rasa pahit dengan tangan terbuka.

Advertisements