Jika ada yang berkata, tokoh politik Indonesia yang paling bersih dan harum namanya adalah wakil presiden pertama, sekaligus salah satu proklamator kemerdekaan Mohammad Hatta, maka akan sulit bagi kita untuk membantah atau menemukan saingannya.

Paling tidak kita hanya dapat menawarkan beberapa nama sekitar satu level di bawahnya. Dan nama Prof. Dr. Mohammad Mahfud Md, SH, SU, sekiranya pantas mengisi posisi ini. Guru Besar politik hukum ini memang terkenal sebagai sosok yang jujur dan amanah. Sehingga dalam survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dirilis pada 28 November 2012 lalu, nama Mahfud Md menjadi kandidat terkuat calon presiden alternatif dalam Pemilu 2014 menurut opinion leader. Di mana kriteria kapabilitas, jujur, dan amanah menjadi penentu utama penilaian survei.

Menariknya, label jujur dan amanah itu di dapat Mahfud di semua wilayah pembagian kekuasaan dalam trias politika. Ibarat pendekar, suami dari Zaizatun Nihayati, SH ini adalah pendekar di tiga wilayah kekuasaan: eksekutif; legislatif; dan yudikatif.

Pria kelahiran 13 Mei 1957 di Sampang, Madura ini mulai meniti karir di pemerintahan pusat sejak diangkat sebagai Pelaksana Tugas Staf Ahli Menteri Negara Urusan HAM pada usia 42 tahun. Pada tahun berikutnya di 2000, jabatannya meningkat menjadi Deputi Menteri Negara Urusan HAM.

Tak lama setelah itu, pada masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid alias Gus Dur, Mahfud dipercaya mengemban amanat sebagai Menteri Pertahanan (2000-2001). Hal ini cukup mengejutkan, karena posisi ini biasanya diisi dari kalangan militer. Adapun Mahfud tak lain hanya seorang akademisi.

Tak cukup sampai di situ, kejutan kembali datang setelah pada 20 Juli 2001 Mahfud diberi tugas ganda sebagai Menteri Kehakiman dan HAM, menggantikan Yusril Ihza Mahendra. Namun tiga hari kemudian, jabatan ini lepas seiring lengsernya Gus Dur dari kursi kepresidenan. Karirnya di wilayah eksekutif pun tak berlangsung lama.

Pada Pemilu 2004, ayah tiga anak—Mohammad Ikhwan Zein (Laki-laki, 15 Maret 1984), Vina Amalia (Perempuan, 15 Juli 1989), dan Royhan Akbar (Laki-laki, 7 Februari 1991)—ini mencoba peruntungan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ia pun terpilih sebagai anggota DPR RI, yang diembannya sejak 2004 sampai 2008.

Selanjutnya, Mahfud dipercaya menjadi hakim konstitusi menggantikan Achmad Roestandi yang telah selesai masa tugasnya. Jabatan inilah yang kemudian mengantarkannya terpilih sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) periode 2008-2011. Di wilayah yudikatif ini, bisa dibilang merupakan masa puncak melambungnya popularitas Mahfud. Hingga namanya sempat santer dibicarakan sebagi kandidat kuat calon presiden Pemilu 2014. Sebelum meletakkan jabatan Ketua MK pada 2013, mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini pun sempat terpilih menjadi Koordinator Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI).

Demikian perjalanan karir Mahfud. Semua jabatan yang ia emban di setiap wilayah kekuasaan tersebut, dijalankan dengan relatif baik dan bersih. Wal hasil, tak berlebihan kiranya jika kepadanya disematkan julukan pendekar tiga wilayah kekuasaan.

Namun demikian, tak lama setelah Mahfud menggembalikan amanat sebagai Ketua MK, ada sedikit noda yang mencoreng perjalanan mulus karirnya. Tepatnya tatkala Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap tangan penggantinya Akil Muchtar saat sedang menerima suap. KPK kemudian menetapkan Akil sebagai tersangka atas dugaan menerima suap terkait penanganan beberapa sengketa pilkada di MK. Di antaranya sengketa pilkada yang ditangani MK saat Mahfud masih menjadi ketuanya.

Sebelumnya, pada 2010, mantan staf ahli MK Refly Harun pernah mengungkap dugaan suap yang diterima Akil. Namun secara tegas Mahfud membantahnya. Mahfud juga menyatakan siap “pasang badan” jika benar di MK terbukti ada praktek suap. Maka setelah Akil ditahan KPK, kritik pedas pun banyak dilayangkan kepadanya.

Beruntung, nama baik Mahfud masih tetap terjaga. Sampai tulisan ini disusun, tak satu pun bukti terungkap yang mengaitkan namanya dengan kasus pelanggaran hukum. [imf]

Advertisements