Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat adalah tontonan pertamaku sejak pertama kali tertarik pada dunia sepakbola.

Waktu itu, Brasil tampil sebagai juaranya. Tapi jagoanku Italia. Aku menjagokan Italia karena tertarik pada penampilan Roberto Baggio.

Setelah Piala Dunia 1994, aku nonton bola secara acak. Buka tv, ada bola, tonton. Kalau tak ada, ya sudah, nonton yang lain. Sama sekali tak tahu jadwal.

Suatu ketika, saat itu aku duduk di bangku SMP, aku buka tv, stasiun tv Malaysia. Ada siaran sepak bola. Aku nonton bersama abangku.

Kami sama-sama tak tahu klub apa yang sedang bertanding. Hanya menonton saja. Lalu kutantang abangku memilih jagoan.

“Tunggu, lihat permainannya dulu,” katanya disusul jeda. “Nah, yang kuning serangannya bagus!” serunya kemudian menentukan pilihan.

Terpaksa aku memilih jagoan yang berkostum tim warna merah. Kami masih sama-sama belum tahu nama klub yang bertanding, apalagi para pemainnya.

Singkat cerita, walau kalah dalam kuantitas serangan, tim yang berkaos merah menang. Jagoanku.

Kali berikutnya, kami nonton bola lagi. Kali ini yang bertanding biru lawan merah. Dengan cara yang sama seperti sebelumnya, abangku memilih tim biru sebagai jagoan. Aku kembali terpaksa pilih merah. Dan lagi-lagi timku yang menang.

Suatu hari Minggu, aku nonton sendirian. Masih di stasiun tv negara tetangga. Di sana, di layar tv, disajikan profil bintang. Dan bintangnya adalah Éric Daniel Pierre Cantona atau dikenal juga sebagai Eric “The King” Cantona.

Seperti biasanya profil bintang, yang diceritakan adalah berbagai prestasinya, kehebatannya. Aku langsung jatuh hati pada Eric Cantona. Juga pada klub yang dibelanya saat itu: Manchester United.

Mengingat kostum kebanggaan MU adalah merah, aku langsung mengasosiasikannya dengan dua merah yang kujagokan sebelumnya.

Sejak saat itu, aku mulai lebih rajin mengikuti berita dari dunia sepakbola, khususnya Liga Inggris, tempat MU berkompetisi. Setiap baca koran, halaman yang paling pertama kutuju adalah rubrik olahraga.

Aku ikut senang saat MU juara Liga Inggris pada 1997. Tapi kesenangan itu sedikit memudar karena Eric Cantona memutuskan gantung sepatu. Apalagi setelah MU gagal meraih juara di tahun berikutnya.

Tahun 1998 Arsenal keluar sebagai juara. Hampir saja aku pindah klub ke Arsenal. Namun, nama baru yang muncul sebagai bintang muda MU mengurungkan niatku. David Beckham mendadak terkenal setelah mencetak gol dari tengah lapangan. Jaraknya sekitar 50 meter. Ia juga mewarisi nomor punggung 7 dari The King.

David Beckham1

Munculnya David Beckham membuatku bertahan mendukung MU. Satu per satu aku juga mulai mengenal nama lainnya, termasuk sang pelatih Sir Alex Ferguson.

MU semakin jaya. Puncaknya di tahun 1999, saat klub berjuluk Setan Merah ini berhasil meraih treble winner: Liga Inggris, Piala FA, dan Liga Champions. Aku semakin kokoh mendukung MU.

Namun sayang, pada tahun 2003 David Beckham hengkang ke Real Madrid. Aku kembali galau. Sebagai pengganti, Sir Alex Ferguson memberikan nomor punggung 7 kepada pemain baru Cristiano Ronaldo. Banyak yang ragu, termasuk diriku.

Seiring berjalannya waktu, ternyata Ronaldo mampu membuktikan bahwa ia pantas menyandang nomor keramat itu. Ia pun mulai menuai banyak pujian. Gelarnya kini CR7. Bersama CR7, MU semakin menancapkan kedikdayaannya di kancah Liga Inggris. Sampai pada 2008, MU kembali merai gelar juara Liga Champions untuk yang ketiga kalinya.

CR7 juga akhirnya mengikuti jejak David Beckham yang hengkang ke Real Madrid. Aku tidak galau lagi. Karena sejak kemunculannya, kebanggaanku kepada MU bukan lagi karena individunya. Sejak Ronaldo muncul, aku percaya MU akan dapat mencetak bintang-bintang lainnya. Jadi, siapa pun pemainnya, siapa pun pelatihnya, aku masih akan mendukung MU. Entah sampai kapan. Glory… Glory… Manchester United!

magnificent 7 United

Advertisements