Perjalanan dari Jakarta menuju Singkawang selalu membuatku bersemangat. Sedikit berbeda dari sebaliknya.

Karena perjalanan dari belahan bumi bagian selatan menuju belahan bumi bagian utara ini, bagiku, sama saja seperti mengejar matahari terbenam di ujung barat Borneo.

Semburat jingga di langit dapat memanjakan mata yang melihat. Dan jika beruntung, kita dapat mengucapkan salam perpisahan pada matahari yang ditelan laut tepat di pantai Kelapa Ampat, atau sering dibilang Ancolnya Kalimantan Barat. Lokasinya persis di tengah-tengah jarak Pontianak-Singkawang.

Sayang, kali ini, lagi-lagi aku tak beruntung. Tak begitu jauh lepas dari Kota Pontianak, sebelum melintas Tugu Khatulistiwa, yang menandakan letak garis tengah bumi atau equator, langit sudah gelap.

Namun kekecawaan itu terbayarkan dengan teman seperjalanan yang menyenangkan.

Di dalam taksi–taksi disini adalah dulu awalnya mobil pribadi yang dijadikan angkutan travel kemudian diresmikan menjadi angkutan umum berplat kuning dengan hanya melayani satu jalur perjalanan–aku bertemu seorang Pendeta Kristiani, Anggota DPRD tingkat kabupaten, dan seorang asisten dokter.

Bapak Pendeta adalah yang pertama naik taksi. Ia bercerita sebenarnya pesawatnya sudah tiba di Bandara Supadio Pontianak sejak pukul 12an siang. Tapi ia ketinggalan rombongan, karena taksi yang dipesan pertama ternyata hanya berkapasitas tiga penumpang. Sementara rombongannya ada lima orang. Empat orang akhirnya terpaksa berangkat duluan. Sementara ia memilih mengalah untuk menebus kesalahannya memesan taksi.

Aku dan Anggota DPRD tingkat kabupaten itu naik kemudian. Bersamaan. Saat itu sudah pukul 15.34 WIB.

Pesawat yang kutumpangi sudah mendarat di Supadio sejak pukul 14an. Karena kali ini pesawat berbendara maskapai berlambang kepala singa ini terbang lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan. Waktu pesan tiket, dijadwal tertera pesawat berangkat pukul 12.50. Setelah check in, ditiket jadwal keberangkatan jadi pukul 12.20. Biasanya jadwal itu adalah patokan untuk naik pesawat. Namun kali ini, pukul 12.00 para penumpang sudah diajak naik pesawat. Banyak yang kaget. Waktunya begitu cepat.

Sopir taksi kami adalah salah satu dari mereka yang kaget. Ia segera meminta maaf setelah aku bilang sudah berada di Supadio. Sementara ia masih dalam perjalanan hampir masuk Kota Pontianak, dan masih harus mengantarkan penumpang ke tujuannya masing-masing. Ia pun memintaku untuk menunggu. Aku menurut. Sejam kemudian ia datang. Aku dan Anggota DPRD naik taksi.

Setelah kami bertiga ada di dalam, taksi belum juga berangkat. Malah sopirnya pergi menuju gedung utama bandara.

“Kasihan, orang cari duit,” kata Anggota DPRD tingkat kabupaten itu mengajak kami untuk maklum. Ia bilang mungkin si sopir taksi mencari penumpang lain, karena kapasitas mobil yang dibawanya untuk lima penumpang. Kami pun maklum. Taksi belum juga berangkat.

“Kalau begitu, saya beli roti dulu,” kata Anggota DPRD tingkat kabupaten itu lagi. Aku dan Bapak Pendeta menganggukkan kepala. Ia pun keluar.

Setelah sekian lama, tampak si sopir berjalan menuju taksi. Bapak Pendeta mulai gelisah.

“Lama juga. Mana bapak-bapak itu?” kata Bapak Pendeta mencari batang hidung Anggota DPRD tingkat kabupaten itu.

“Kalau terlalu lama begini, bisa terlambat juga nanti. Saya bisa dimarahin Ridel. Tahu Ridel?” tanya Bapak Pendeta.

Aku mendengarnya “Rider”. “Rider itu siapa, Pak?” tanyaku bingung.

“Masa’ gak tahu, kan banyak itu di koran-koran, di tv. Ridel!” tegasnya.

“Oh, Alfred Riedl,” jawabku.

“Ya, kalau saya sebut Alfred kan pasti ketahuan dari tadi. Oh, itu orangnya muncul. Kayaknya dia beli roti untuk kita juga. Gak mungkin kan dia makan sendiri. Saya memang suka bercanda, Pak,” katanya padaku sambil tertawa kecil.

Anggota DPRD tingkat kabupaten itu masuk taksi. Di tangannya ada sekantong roti panggang. Dan benar saja, roti-roti itu langsung disodorkan ke kami, termasuk sopir taksi.

“Silakan, Pak, Dek, masih panas. Maaf agak lama, rotinya baru dimasak,” katanya.

Kami makan roti. Dan taksi mulai berjalan meninggalkan bandara. Pembicaraan kemudian dimulai membahas tentang pertandingan Final AFF Suzuki Cup 2016 antara Timnas Indonesia versus Thailand. Semua yang ada di taksi yakin Indonesia akan jadi juara.

“Prediksi skor berapa, Pak?” tanyaku.

“Saya tidak berani prediksi. Tapi saya rindu Indonesia menang, 1-0,” kata Bapak Pendeta.

Anggota DPRD tingkat kabupaten tak mau ketinggalan. Ia berharap skor akhirnya 1-1 atau 2-2.

Aku jadi ingat. Di Indonesia, mungkin juga tempat lain, kita susah membedakan antara prediksi dan harapan–yang disebut Bapak Pendeta dengan “rindu”. Ketika ditanya tentang prediksi, maka jawab kita adalah harapan yang diinginkan.

Taksi mulai memasuki wilayah Kota. Anggota DPRD tingkat kabupaten itu meminta izin mampir sebentar di daerah yang disebut Paris. Untuk mengambil titipan, katanya.

“Sampaikan, Pak, sampaikan!” kata Bapak Pendeta memberi persetujuan. Dan aku bersepakat dengannya.

Sementara Anggota DPRD tingkat kabupaten itu mengambil barang titipannya, sang sopir taksi mendapat telepon untuk menjemput seorang penumpang lagi.

Setelah Anggota DPRD tingkat kabupaten itu mengambil barang titipannya, sang sopir taksi pun menjemput satu penumpang lagi. Jadilah kami berlima di dalam taksi.

Ternyata penumpang yang baru naik itu adalah seorang asisten dokter, dokter umum asal Malaysia yang buka praktik di Pontianak. Dengan logat Makassar, ia bilang biasanya sekitar pukul 18.00, kadang 19.00, baru dapat jemputan. Namun sekarang, lebih awal.

Bapak Pendeta menimpali. Ia bilang seharusnya sudah berangkat dari siang tadi. Aku dan Anggota DPRD tingkat kabupaten itu hanya tersenyum karena sudah tahu jalan cerita Bapak Pendeta.

Tapi sang asisten dokter tiba-tiba merasa bersalah. “Waduh, maaf ya, gara-gara saya ini jadi terlambat,” katanya.

Kami yang sudah naik taksi lebih awal kompak menjawab, tidak apa-apa.

Pembicaraan yang terjadi selanjutnya adalah tentang aktivitas sang asisten dokter. Ia bercerita punya seorang teman, yang belum bisa pulang kalau ia belum pulang.

“Jadi kadang-kadang saya minta supir taksi biar dijemput duluan, baru dia jemput penumpang lain. Biarlah saya ikut keliling-keliling, yang penting saya bisa keluar dulu dari kantor. Jadi teman saya itu bisa pulang. Kadang saya lihat dia marah sama saya. Kadang dia kerjain saya juga. Dia tahu jadwal saya kalau hari Sabtu pulang ke rumah, tapi dia tetap terima pasien banyak-banyak. Dokter juga kadang sampai marah sama dia,” kisahnya.

Kami yang mendengarnya semua tertawa.

Tiba-tiba kantukku datang. Tadi di pesawat aku tidak tidur. Aku pun tidur. Sebelum benar-benar lelap, sayup-sayup aku sempat mendengar antara Anggota DPRD tingkat kabupaten itu dan sang asisten dokter saling berbagi nomor telepon.

Saat kantukku terpuaskan, penumpang yang tersisa tinggal aku dan Bapak Pendeta.

Ketika taksi hampir memasuki daerah Tanjung Gundul, tiba-tiba Bapak Pendeta mulai menyinggung topik horor. Tentang makhluk gaib. Tentang roh-roh gentayangan penunggu Tanjung Gundul.

“Mereka cari teman. Makanya di sini sering terjadi kecelakaan,” kata Bapak Pendeta.

Hal itu diamini oleh sang sopir taksi.

Aku bingung bagaimana harus bersikap. Aku tak percaya–atau tepatnya tak peduli–dengan hal-hal seperti itu. Aku memang percaya makhluk semacam itu ada, tapi aku yakin dimensi alamnya berbeda dengan kita.

Bapak Pendeta kemudian juga bilang bahwa air laut Pantai Pasir Panjang berhubungan langsung dengan laut China Daratan. Ia mengaku pernah melihat ombak seperti naga saat melakukan pembaptisan di Pantai Pasir Panjang.

Begitu, melewati kawasan Pantai Pasir Panjang, kami melihat ada segerombolan orang yang nonton bareng lagi final Indonesia vs Thailand, dengan layar besar. Beberapa meter kemudian, kami sama-sama tidak kuat menahan untuk tidak mampir sebentar di salah satu warung yang ada tv-nya.

Ternyata Timnas Indonesia takluk dengan skor 2-0. Thailand kembali jadi juara, mengalahkan Indonesia dengan agregat 3-2.

Kami melanjutkan perjalanan. Dan tiba-tiba Bapak Pendeta menepuk pundakku. “Saya boleh kasih masukan gak?” katanya.

“Masukan apa, Pak?” tanyaku balik.

“Boleh atau tidak? Itu dulu.”

“Tentu boleh, Pak.”

“Pertama, kamu harus selalu melihat ke depan. Jangan lagi melihat ke belakang. Kamu harus pertajam apa yang sudah kamu miliki. Kedua, banyak-banyak tahajud,” pesan Bapak Pendeta kepadaku.

Pesan yang pertama mungkin aku bisa melakukannya. Pesan kedua yang agak berat. Jangankan tahajud, sholat lima waktu saja aku jarang. Tapi aku sanggupi saja sementara pesannya.

Taksi kemudian mengantar Bapak Pendeta ke daerah Sanggau Kulor. Aku jadi penumpang terakhir yang tersisa. Waktu menunjukkan pukul 21.21 WIB. Taksi kemudian menuju daerah Bukit Batu, tujuanku.

Sebetulnya, dalam hatiku, ini sudah sangat terlambat. Aku yakin begitu juga dengan Bapak Pendeta dan Anggota DPRD tingkat kabupaten itu. Tapi, entah mengapa, saat bersama-sama kami susah mengungkapkan rasa itu. Semuanya mencoba saling memaklumi. Dan yang penting bagiku sekarang, aku sudah sampai tujuan. Akhirnya aku bisa menjenguk ibu yang sedang sakit.

[Singkawang, Desember 2016]

Advertisements