Namanya Elifa Aisya. Panggilan sehari-hari Acha. Aku lebih suka menyebutnya Aca. Perempuan, kelahiran Singkawang, 20 Oktober 2009.

Aku bersahabat dengannya sejak ia berusia kira-kira 10 bulan.

Aca anak yang periang. Aktif. Tidak bisa diam.

Rambutnya yang pendek, membuat Aca sekilas seperti anak laki-laki. Fisiknya yang tahan banting, menegaskan hal itu. Gerak tubuhnya yang aktif membuat ia sering terjatuh atau terbentur sesuatu. Tapi Aca jarang nangis. Ia akan menangis sejadi-jadinya jika keinginannya dihalangi.

Putri pertama dari abang sulungku ini adalah peniru yang handal. Ia perhatikan sekelilingnya. Ia lihat apa yang dilakukan orang lain. Lalu ia tiru.

Suatu kali, Ayahku sedang membuatkan meja komputer untuk adikku. Aca tak mau ketinggalan. Ia perhatikan Ayahku bekerja. Sembari jongkok, ia saksikan Ayahku menggergaji bilah-bilah kayu. Dan saat Ayahku ganti memaku kayu-kayu yang telah dipotong, Aca bangkit mengambil gergaji yang tergeletak di lantai serambi rumah. Ia gergaji kayu-kayu sisa. Caranya, persis seperti yang ia perhatikan sebelumnya.

Dan yang paling kuingat, suatu sore, Ibuku memintaku menembok gundukan tanah di sekeliling pohon jeruk yang ada di kebun kecil di belakang rumah. Pasalnya, gundukan tanah itu berantakan setelah dikarih ayam.

Kuambil cangkul. Kukenakan sepatu bot. Siap beraksi. Melihat hal itu, Aca yang menginjak usia sekira tiga tahun tak mau kalah. “Wan, mana sepatu bot Aca?” tanyanya pada Ibuku.

Ibuku pun segera membawakannya sebuah sepatu bot mungil. Sepatu bot warna merah. Yang segera menutupi kakinya yang juga mungil. Aca tersenyum. Keceriaan merona di wajahnya. Ia siap ikut denganku.

Dengan langkah tegap, lewat kaki mungil yang terbungkus sepatu bot merah, ia mengekor di belakangku. Kami berjalan menuju gundukan tanah merah yang akan kami pindah memperbaiki gundukan tanah di sekitar pohon jeruk.

Kuayunkan cangkul di atas gundukan tanah merah. Hasilnya kumasukkan dalam keranjang pengangkut tanah. Setelah tiga kali melakukan itu, Aca bangkit mendekatiku. “Pinjam, Pak Ngah,” katanya sambil mengambil cangkul yang kupegang.

Kuberikan cangkul itu padanya. Ia pun mulai memperagakan apa yang dilihatnya tadi. Cangkul diayunkan sekuat tenaga. “Prakkk!” bunyi mata cangkul membentur batu kecil. “Oke, cukup!” seruku setelah dua kali ia mengayunkan cangkul.

“Ayo kita bawa ke sana,” kataku sambil mengangkat keranjang pembawa tanah menuju pohon jeruk. Aca mengekor.

Beberapa kali kami lakukan hal yang sama. Sampai gundukan tanah di sekitar pohon jeruk rapi kembali.

Saat akan kembali ke rumah, tiba-tiba mata Aca menangkap anak-anak ayam yang sedang makan. Ia tergoda. Gemas.

Aca memang suka ayam. Hampir setiap hari makannya selalu berlauk ayam goreng. Ia menyebutnya “Ayam Upin”.

Melihat anak-anak ayam yang kuning lucu itu, Aca segera mencari ranting. Setelah ketemu, ia ambil ranting itu. Ia ayunkan pada kerumunan anak ayam yang sedang makan. Ia goda mereka dengan mengayun-ayunkan ranting. Ia senang bisa melakukan itu.

Apa yang dilakukan Aca ternyata diketahui induk ayam. Tak terima, induk ayam marah. Dan langsung menyerang Aca.

Aca lari terbirit-birit. Langkahnya panjang dan cepat. “Haaaaa…” teriaknya.

Menyaksikan itu, melihat Aca berlari bersama sepatu bot merahnya, aku tertawa. [*]

Advertisements