“Bongkooo… Bongkooo…”

Demikian teriak seorang perempuan paruh baya menjajakan dagangannya.

Dan seketika, aku lari tunggang-langgang. Menjauh. Masuk rumah. Dan bersembunyi.

Waktu itu usiaku sekitar 7-9 tahun.

Entah mengapa, aku begitu ketakutan ketika mendengar teriakan tersebut. Tak peduli jaraknya masih 100-200 meter, begitu mendengar suara itu, aku langsung lari terbirit-birit.

Sampai saat ini, aku tak pernah mengerti mengapa waktu itu aku begitu takut. Mungkin saja karena sosok penjualnya, yang berkebaya lusuh dan kain batik di bawahnya. Di kepalanya, melintang kain khas sebagai pengganjal bakul untuk kue jajaannya.

Tapi aku sendiri ragu akan hal itu. Karena aku tidak takut kepada penjual midding (sayur pakis), yang secara visual fisik tidak jauh berbeda dari penjaja bongko. Bahkan, penjual midding ini tampak sedikit lebih tua.

Atau mungkin juga kata “Bongko” itu lah yang membuatku takut. Yang bagiku, waktu itu, mungkin mengandung unsur magis ketika diteriakkan dan aku mendengarnya. Tapi anehnya, aku tak takut jika kata itu diteriakkan orang lain.

Alhasil, sampai sekarang, aku tak pernah tahu bagaimana bentuk kue bongko itu. Aku juga tidak yakin foto diatas adalah penampakan bongko. Aku hanya mengetik kata “bongko” di mesin pencari Google, kemudian muncullah beberapa gambar, dan salah satunya gambar itu. Jadi kuanggap saja itu adalah bongko.

Ciputat, Februari 2017

Advertisements