Suatu siang, aku, bapakku, dan pamanku, duduk-duduk di beranda Masjid Keraton Sambas, Kalimantan Barat.
 
Pamanku itu adalah abang kandung bapakku. Bagi kami, mau itu abang atau adik dari orangtua, semua sama disebut paman.

 
Kami berbincang banyak hal. Termasuk tentang bangunan masjid yang semuanya terbuat dari kayu. Paman, yang menikah dengan salah satu perempuan warga Dalam Kaum, dan telah lama tinggal di sekitar Keraton, mengatakan bahwa masjid itu sama sekali tidak menggunakan pasak besi alias paku. Semua pasak terbuat dari kayu. Sampai-sampai atapnya pun dari kayu.
 
Saat sholat dzuhur sebelumnya, aku merasakan suasana sejuk di dalam masjid itu. Padahal tidak menggunakan air conditioner (AC). Hanya ada beberapa kipas angin listrik biasa saja. Sementara udara di luar sangat panas. Maklum daerah pesisir.
 
Selang beberapa saat kami ngobrol, datang dua perempuan paruh baya berpayung ke arah kami.
 
Assalamu’alaikum,” sapa salah satu perempuan yang mengenakan rok mengembang, yang ujungnya sedikit berada di bawah lutut.
 
Aku dan bapakku segera menjawab salam itu.
 
Kemudian, perempuan itu bertanya suatu tentang kebiasaan di Keraton.
 
Aku dan bapakku diam. Memberi kesempatan kepada paman yang kami anggap lebih pantas untuk menjawab. Dan tentunya lebih tahu keadaan Keraton dari kami.
 
Namun paman tak segera menjawab. Ada jeda. Setelah jeda, dan seperti baru tersadar dari sesuatu, paman akhirnya menjawab pertanyaan itu.
 
“Itu orang Cina, kan?” tanya paman kepada kami, sesaat setelah kedua perempuan tersebut berlalu teriring ucapan terima kasih.
 
“Kenapa bilang ‘Assalamu’alaikum’?” tanyanya lagi sebelum kami sempat menjawab pertanyaan pertama.
 
Rentetan pertanyaan itu membuat aku dan bapakku paham mengapa ada jeda tadi.
 
“Apa salahnya kalau Cina? Kan Cina bukan agama. Siapa tahu dia sudah masuk Islam,” kata bapakku.
 
Aku hanya menyimak. Kulihat tampak paman menganguk-anggukkan kepala mendengar jawaban bapak.
Advertisements