Tiba-tiba siang itu, Sabtu (12/8/2017), mataku terasa berat sekali. Aku pun langsung menuju ke atas kasur. Sementara tivi masih menyala.

Dalam sekejap aku telah tertidur. Meninggalkan alam nyata. Menuju alam maya. Dan sepertinya nyenyak.

Dalam tidur, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba aku telah berada di atas mobil bak terbuka , di bagian belakang bersama sebuah benda besar yang mengisi sebagian besar kapasitas bak. Sementara, aku berdiri di sisi sebelah kanan yang tersisa sedikit. Jaraknya kira-kira hanya satu langkah kecil.

Mobil bak itu dalam keadaan jalan, entah ke arah mana. Aku tidak tahu ada berapa orang yang ada di bagian depan dan siapa saja. Aku juga tidak tahu siapa yang menyetir.

Yang aku tahu, di belakang, aku tak sendirian. Di sebelahku ada sesosok anak kecil, berkepala botak, tak berbaju, dan hanya mengenakan celana pendek yang tampak seperti selembar kain putih yang dililitkan sedemikian rupa. Ia mengaku bernama Oni. Dan tuyul.

Oni mengaku bukan tuyul sembarangan. Ia adalah tuyul kontemporer. Karena itu, ia tak bisa mencuri uang lagi. Namun instingnya masih kuat soal siapa saja yang punya banyak harta dan di mana disimpannya.

Tak butuh waktu lama aku telah menjadi akrab dengan Oni. Kami begitu menikmati waktu berduan itu. Aku mengajaknya merayakan perkenalan yang menyenangkan itu.

“Apa? Kita kan sudah kenal dan selalu bersama-sama selama 26 tahun!” katanya mengagetkanku.

Belum sempat aku bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi, tiba-tiba di sekitar kami telah banyak orang. Di samping Oni, tepat di posisi belakang sopir, berdiri seorang perempuan muda berambut panjang dan berparas cantik. Di samping kananku sendiri ada seorang laki-laki tua berkacamata. Dan di sebelah kanan lagi ada sepasang kekasih yang sedang bermesraan.

Mengingat sempitnya ruang bak belakang itu, aku coba membuka ruang dengan mendekap Oni di depanku. Kutempelkan daguku di atas kepalanya yang pelontos. Dan kami ngobrol seperlunya, dalam bisik.

Sesaat kemudian, lagi-lagi secara tiba-tiba, sambil jari telunjuknya mengarah ke belakang Oni berkata, “Rumah itu banyak hartanya. Ada uang, ada emas.”

Dan saat itu mobil bak terbuka yang kami tumpangi baru saja berbelok ke sebuah jalan yang sangat kukenal. Mobil itu sedang menuju ke arah rumah masa kecilku di kampung, di Singkawang, Kalimantan Barat.

Tak sempat berkata apa-apa, sejenak kemudian aku terbangun. Yang tinggal hanya bayangan wajah Oni, si tuyul kontemporer.

Ciputat, 13 Agustus 2017

Advertisements